Bismillahirrohmaanirrohiim

Kembali ke Pesantren (Agama) : Solusi Menghadapi Zaman Global

Alhamdulillah acara Khataman berjalan dengan lancar tanpa aral yang berarti. Rangakain acara diawali dengan “Abdul Qodiran” pada pagi hari Rabu (20 Juli 2011) dan “Tahlilan” pada Rabu sore tersebut. Kemudian Wisuda Khataman Tahfidzul Qur’an dilaksanakan pada hari Kamis mulai pukul 10.00 WIB  hingga sekitar pukul 13.00 WIB. Hadir dalam acara tersebut Ibu Nyai Hj. Solikhah dari Ponpes Sunan Pandanaran Ngaglik Sleman dan Gus Najib dari Ponpes Al-Munawir Krapyak Bantul, yang sudi untuk menutup acara tersebut dengan wejangan dan do’a.

Khataman Wisuda Tahfidzul Qur’an kali ini merupakan Angkatan ke VIII untuk 8 santri putri dan Angkatan I untuk 3 santri putra, meski sebetulnya pada khataman sebelumnya (2009) ada seorang santri putra yang juga berhasil menyelesaikan Tahfidzul Qur’an bil Khifdzi melalui bimbingan Ibu Nyai Hj. Dafiniyatul ‘Ulum. Sedang 3 santri putra wisudawan kali ini dibimbing oleh Gus Nur Hamid Majid. Berikut nama wisudawan-wisudawati Tahfidzul Qur’an bil Khifdzi tahun ini :


1.       Ahmad Muntaha bin Ma’sum dari Grobogan Semarang Jawa Tengah
2.       Muhammad Hadziq bin Samudi dari Bandongan Magelang Jawa Tengah
3.       Muhammad Anif Kurniawan bin Muhaimin dari Borobudur Magelang Jawa Tengah
4.       Chusnul Jamil binti Asrori dari Parakan Temanggung Jawa Tengah
5.       Chotimatun Nafisah binti Khuzam dari Dlingo Bantul Yogyakarta
6.       Sayyidah Islamiyyah binti Mahfudz dari Girimulyo Kulonprogo Yogyakarta
7.       Umi Hanik Nur Hasanah binti Abdul Fatah dari Wungu Madiun Yogyakarta
8.       Laily Tazkiyatul Afidah binti Damanhuri dari Pandak Bantul Yogyakarta
9.       Miftahur Rohmah binti Suradi dari Ngadirejo Temanggung Jawa Tengah
10.   Siti Ma’rufah binti Zainudin dari Dlingo Bantul Yogyakarta
11.   Muyasarotun Ni’mah binti Abdulloh Rasyid dari Secang Magelang Jawa Tengah

Pada malam Jum’atnya, acara pengajian akbar dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Sambutan Alumni diwakili oleh Bapak K. Abdul Aziz dari Temangggung yang menyoroti pentingnya memesantrenkan anak di era globalisasi. Sedangkan sambutan dari pengasuh diwakili oleh Gus Nur Hamid, yang menyampaikan permohonan maaf dari K.H. Hasyim Muzadi yang berhalangan mengisi pengajian akbar kali ini. Beliau juga menyoroti pentingnya pesantren bagi keutuhan NKRI, disamping memberi sedikit informasi tentang prestasi Ponpes Assalafiyyah yang mengirimkan 10 santrinya mewakili propinsi DI. Yogyakarta dalam lomba Musabaqoh Qiroatul Kutub Nasional di NTB. Sedangkan sambutan dari pemerintah diwakili oleh bupati Sleman Bapak Sri Purnomo yang ternyata sangat fasih melantunkan ayat tentang pentingnya bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita.

Meskipun K.H. Hasyim Muzadi berhalangan hadir, namun K.H. Zamroji dari Blitar bisa mengobati kekecewaan para hadirin. Dalam memberikan tausyiyah dan wejangan, beliau sedikit banyak menyelipkan humor-humor sindiran yang mengena pada para hadirin, sehingga mereka terbebas dari rasa kantuk dan bosan. Hadirin yang datang hampir tidak ada yang mengantuk, mereka dengan serius mendengarkan apa yang disampaikan bapak Zamroji ketika beliau berbicara dengan mimik serius, dan menjawab dengan senyum dan tawa ketika beliau melontarkan sindiran dan humor.

Beliau menjelaskan bahwa zaman sekarang ini persis seperti apa yang diungkapkan oleh Ibnu Kholdun dalam kitabnya, bahwa “nanti akan ada zaman dimana umat islam tidak takut berhadapan frontal secara fisik dengan para musuhnya, namun umat islam di masa itu akan bertekuk lutut tak berdaya dihadapan benturan budaya…”. Dicontohkan, pejuang Palestina sejak beliau dilahirkan hingga sekarang tetap melakukan perlawanan secara fisik dengan gagah berani tanpa rasa takut terhadap Israel, meskipun hanya bersenjatakan batu dan ketapel tradisional. Namun tanpa disadari kita tak berkutik ketika berhadapan dengan kemajuan budaya dan tehnologi, semisal HP dan internet. Betapa tehnologi yang ada sekarang mempunyai sisi kebaikan yang sangat besar, namun juga memiliki sisi keburukan dan bahaya yang juga sangat besar. Salah satunya beliau mencermati bahaya pornografi yang sudah masuk ke madrasah-madrasah pesantren juga, sehingga perlu perhatian khusus dari para ustadz dan kyai.

Sebagaimana pidato Presiden SBY beberapa waktu lalu yang menyatakan pentingnya pendidikan yang maju secara akademik namun juga berkarakter kebangsaan yang tinggi, maka pesantren adalah model pendidikan yang paling baik yang ada di Indonesia, dimana disitu ditanamkan pendidikan berkarakter agama yang mendapat bimbingan hampir 24 jam. Pendidikan di pesantren tidak melulu melihat prestasi akademik yang diraih santri, namun juga membimbing santri untuk berakhlakul karimah.

Dibandingkan model pendidikan yang lain, lulusan pesantren ternyata tidak kalah dengan lulusan perguruan tinggi lain, bahkan sekaliber Prof. Ing. BJ. Habibie (lulusan S3 Jerman) ternyata bisa disaingi oleh Gus Dur (jebolan pondok Tegalrejo dan Krapyak) dimana keduanya bisa menjadi presiden RI selama kurun waktu yang hampir sama, 2 tahunan. Beberapa menteri lulusan pesantren juga memiliki kinerja yang tak kalah dengan lulusan perguruan tinggi. Beliau menyimpulkan bahwa harta, jabatan dan isteri yang cantik tidak ada hubungannya sama sekali dengan tingkat pendidikan formal seseorang. Banyak sarjana yang miskin, bahkan menjadi pengangguran, atau bahkan banyak yang justru menjadi koruptor yang sangat merugikan bangsa ini, namun ada juga tamatan SD yang melanjutkan ke pesantren akhirnya menjadi orang yang kaya atau menduduki jabatan penting. Hal itu karena rizki seseorang telah ditentukan oleh Allah sejak ia belum dilahirkan.

Cantik, kaya dan jabatan bukan jaminan orang itu bahagia dan tenang, banyak suami yang punya istri cantik justru tidak tenang meninggalkannya lama-lama, bahkan banyak artis cantik yang gagal meraih kebahagiaan rumah tangga, begitu juga banyak orang kaya tidak tenang karena banyaknya proposal permintaan bantuan dan kekhawatiran dicuri serta dirampok. Dan bisa dipastikan seorang presiden SBY sekarang tidak pernah bisa tidur dengan tenang, setenang seorang santri atau petani, karena masalah politik bangsa ini. Allah sangat maha pandai mengatur keseimbangan hidup manusia, Dia memberikan anugrah-anugrah tertentu disamping kehinaan dan kelemahan manusia sendiri, jarang sekali Allah memberikan seluruh anugrah-Nya secara sempurna pada seseorang, Allah maha tahu tentang apa yang terbaik bagi sesorang itu. Indahnya, kita tidak diberi tahu tentang pernik-pernik isi taqdir kita, taqdir disamarkan agar manusia itu tetap berusaha dan ikhtiyar sekuat tenaga.

Banyak kejadian yang telah menimpa bangsa ini (longsor, banjir, gempa dan gunung meletus), dan itu semua pasti mempunyai hikmah tersembunyi, salah satunya adalah sebagai peringatan dari Allah atas tingkah laku kita sendiri selama ini, dan mungkin Allah sedang menunggu “respon kita” selanjutnya, sebelum akhirnya memutuskan apa yang dikehendaki-Nya. Kembali kepada Allah dan syari’at-Nya adalah kunci untuk menghindari “adzab” selanjutnya. Dan tugas kita adalah menyampaikan dan mengingatkan pada saudara dan tetangga kita sendiri akan hal ini semua.

Pengajian ditutup dengan do’a oleh Gus Mansur Hadziq dari Magelang yang juga turut sedikit memberi wejangan pentingnya pondok pesantren dan pentingnya mengirimkan anak didik ke pesantren. Pesantren bukan tempat pembuangan anak-anak nakal dan idiot. Adalah salah besar hanya memondokkan anak-anaknya yang terlihat “tidak berbakat”, lalu menyekolahkan atau mengkuliahkan anak-anaknya yang terlihat “berbakat”. Itu karena pendidikan agama amat sangat penting di zaman globalisasi ini, dimana hanya agamalah yang bisa menentukan selamat tidaknya seseorang.

PALING DIMINATI

Back To Top