Bismillahirrohmaanirrohiim

BEDA PANGKAL BENCI



Mike adalah instruktur saya ketika field-training di Texas di masa muda dulu. Kami bekerja bersama selama tiga bulan sehingga cukup saling mengenal. Suatu kali saya lihat dia turun dari taksi sambil membanting pintu dan memaki-maki sopirnya. Entah apa alasan dan perihal pertengkarannya; mana saya tahu ihwal orang Texas. Ketika saya bertanya apa sebabnya, jawabannya sungguh tak terduga: "He is Niger! That is why!" Niger adalah sebutan sinis orang kulit putih terhadap orang Negro pada saat itu yang sekarang berganti menjadi African-American sesuai dengan keinginan orang kulit hitam sendiri. Bagi Mike, saya tidak perlu tahu sebab-sebab pertengkarannya kecuali karena sopir taksi itu berkulit hitam. Itu sudah cukup! Hitam adalah biang kerok dalam otak Mike. Hitam adalah sumber segala mudarat. Perbedaan warna kulit, yang adalah kehendak Tuhan, bagi kebanyakan orang kulit putih Amerika adalah pangkal kebencian dan permusuhan sepanjang zaman.

Rasulullah wafat pada awal abad ke 7. Ketika harus menentukan siapa yang harus meneruskan kepemimpinannya (dibidang sosial dan politik) timbullah perbedaan. Sebagian menginginkan Abubakar Siddik dan sebagian lain menghendaki Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Keduanya adalah pejuang Islam generasi pertama yang sangat dekat dengan Rasulullah dan keduanya berakhlak mulia. Tidak ada perbedaan pendapat tentang agama diantara mereka. Mula-mula perbedaan itu tidak menimbulkan gejolak yang berarti. Tetapi lama-lama berubah menjadi kebencian dan permusuhan yang makin sengit dan menjurang. Kedua kelompok yang kemudian berkembang menjadi kaum Sunni dan kaum Syiah makin jauh terpisah dan mewariskan kebencian dan permusuhan mereka sampai sekarang. Adalah menyedihkan bahwa pertumpahan darah antara sesama umat Islam di Irak hari ini bersumber dari kebencian yang dipelihara selama 14 abad. Seandainya arwah kedua sahabat nabi yang selalu disebut oleh khotib setiap Jum'at itu bangkit hari ini, pasti mereka tidak percaya bahwa pertumpahan darah itu berasal dari perbedaan pandangan orang zaman dulu tentang mereka. Alangkah ironisnya. Sementara kita sudah saling berdamai dengan Belanda yang 350 tahun menjajah negeri kita, sementara permusuhan dalam dua kali Perang Dunia pun sudah hilang, kita justru semakin memperkuat  permusuhan yang berasal dari 1,400 tahun yang lalu.

Dalam skala pibadi saya juga tidak ketinggalan. Memelihara kebencian dan permusuhan yang berpangkal dari perbedaan hal yang sama-sama baik. Junaidi adalah sahabat saya sejak mahasiswa. Kami sama-sama anggota organisasi mahasiswa dan Ormas Islam yang sama. Pendapat kami tentang berbagai hal boleh dikatakan sama. Katakanlah kami ini sama-sama moderat; tidak pernah memandang segala sesuatu secara berlebihan. Kami bersahabat sampai tua. Beberapa tahun yang lalu ia diajak isterinya mengikuti dan menjadi anggota pengajian yang rada njlimet kesufi-sufian. Sejak itu ia makin menjauh dari saya dan cara berbicaranya agak menggurui. Saya pun menjauh karena  tidak suka digurui. Lama kelamaan kami benar-benar tidak suka satu sama lain. Saya merasa bahwa Junaidi bukan lagi Junaidi dulu yang ramah, toleran dan memahami orang lain. Tahun lalu ia menikahkan putri bungsunya dan saya tidak diundang, padahal anak itu menganggap saya sebagai pamannya. Nampaknya itu sebagai balas dendam karena lebaran sebelumnya saya tidak bersilaturahmi ke rumahnya. Bermula dari beda pengajian, persahabatan yang seingat saya "lillahi ta'ala" berpuluh tahun putus dan saya merasakan bahwa dia membenci saya sebagaiman saya juga tidak menyukainya lagi. Sampai mati? Entahlah!

Saya yakin, setidaknya dari satu sisi, bahwa perbedaan memang merupakan pangkal kebencian dan permusuhan. Semata-mata hanya karena berbeda. Beda suku, beda agama dan ras, semuanya sangat potensial untuk membangkitkan kebencian dan permusuhan. Bahwa perbedaan membawa rahmat saya juga percaya. Dari sisi yang lain lagi. Wallohu a'lam.

PALING DIMINATI

Back To Top