Bismillahirrohmaanirrohiim

Liputan Diskusi Kelas Pemikiran Gus Dur: Politik Menurut Platon dan Gus Dur


oleh Muhammad Idris Mesut pada 11 Februari 2012 pukul 10:41  



Bagi Platon,  seorang pemimpin tidak bisa dicetak secara instan, layaknya mie, melainkan dengan tempaan yang cukup lama agar menjadi pemimpin yang matang dan berkarakter pemimpin dan bisa menjadi Filsuf Raja.
Diskusi kelas pemikiran Gus Dur yang keempat ini diadakan di pojok Gus Dur PBNU dengan mengangkat tema “Politik menurut Platon dan Gus Dur”. Kali ini, teman-teman kelas pemikiran Gus Dur mendatangkan Romo Setyo (pakar filsafat dan dosen STF Driyarkara) lulusan Paris. Diskusi yang dihadiri sekitar tiga puluhan orang ini tidak hanya diikuti aktivis-aktivis mahasiswa S1, melainkan juga dihadiri oleh beberapa mahasiswa pasca sarjana.

Idris Mesut, aktivis kelas pemikiran Gus Dur yang aktif di PSPP dan didaulat sebagai moderator diskusi, membuka diskusi ini dengan mempersilakan Romo Setyo untuk mengawali diskusi. Sebelum masuk kepada tema pembahasannya “filsafat platon”, Romo sedikit bercerita tentang kekagumannya terhadap Gus Dur. Di antara kekaguman romo Setyo adalah penganugerahan gelar doktor honoris causa yang diperoleh Gus Dur dari Universitas Sorbone, Prancis. Salah satu universitas  bergengsi di dunia ini memberikan penghargaan terhadap orang Indonesia, kata romo. Hubungan yang dijalin Gus Dur dengan dunia luar negeri juga mendapatkan pujian dari romo.

Banyak cerita tentang Gus Dur lainnya dan tentunya unik dan langka juga diceritakan oleh romo setyo saat berada di Paris. Kemudian romo memaparkan tentang Politik Menurut Plato dengan mengemukakan figur pemimpin (Filsuf Raja dan Filsuf Ratu) ala Platon. Bagi Platon, menurut romo, seorang pemimpin tidak bisa dicetak secara instan, layaknya mie, melainkan dengan tempaan yang cukup lama agar menjadi pemimpin yang matang dan berkarakter pemimpin. Di antara hal penting yang harus dimiliki dan ditempuh oleh calon pemimpin adalah sebagai berikut:
  1. Memiliki bakat alamiah, pemimpin harus memiliki bakat alamiah.
  2. Memiliki kualitas ketekunan yang baik
  3. Suka terhadap kebenaran dan benci kebohongan
  4. Memiliki rasa marah dalam menolak ketidakbenaran
  5. Pendidikan yang tepat meliputi: pendidikan seni, pendidikan gimnastik, latihan tempur, pendidikan ilmu-ilmu abstrak, dialektika, pendidikan matematika (aritemetika, geometri ruang dan geometri bidang)
  6. 6.      Live in (praktek menjalankan pemerintahan); dan usia yang tepat untuk penjaringan pemimpin ideal setelah menjalani tahapan ini adalah usia 50-an tahun. 
Memotret Politik Gus Dur
Sementara Syaiful Arif, selaku koordinator kelas pemikiran Gus Dur, pada kesempatan kali ini menjelaskan tentang politik Gus Dur. Bagi Arif, politik Gus Dur dapat dipetakan menjadi tiga tahap.
  1. Pra Presiden
Politik Gus Dur sebelum menjadi presiden adalah politik berbasis kultural sekaligus menjadi lawan dari pemerintah orba. Gus Dur adalah di antara, mungkin satu-satunya, tokoh yang secara terang-terangan mengeritik pemerintahan orba.
  1. Menjabat Presiden
Sikap politik Gus Dur pada saat ini adalah di antaranya dengan mendebirokratisasikan sejumlah kementrian seperti penerangan dan sosial.
  1. Pasca Presiden
Nasib politik Gus Dur tidak berjalan mulus, setelah dilengserkan oleh sejumlah kawan yang menjadi lawannya dari kursi presiden. Gus Dur juga mengalami kegagalan dalam politik di partai yang didirikannya. Lambat laun Gus Dur meninggalkan politik praktis.

Kaidah fikih yang selalu dipakai oleh Gus Dur dalam sikap berpolitiknya, baik pra, saat menjadi, ataupun pasca presidaen adalah “tasharruf al-imam ‘ala ra’iyah manuthun bi al-mashlahah” (kebijakan seorang pemimpin harus berlandaskan prinsip kemaslahatan terhadap rakyatnya.  

White Lie (kebohongan putih) Menurut Platon
Pada sesi tanya jawab, muhammad hanifuddin, aktivis kelas pemikiran Gus Dur kantong Darussunnah Ciputat, menanyakan tentang kebohongan putih yang dimaksudkan oleh Platon jika dikaitkan dengan “kebohongan” data yang diberikan oleh pemerintah dalam menjelaskan penurunan angka kemiskinan, dll.
Pertanyaan tersebut dijawab secara tegas oleh romo setyo bahwa kebohongan putih yang dimaksud oleh Platon adalah menceritakan mitos-mitos yang berkembang di Yunani untuk memberi pemahaman kepada rakyatnya yang memiliki
kemampuan terbatas. Hal ini berbeda dengan “kebohongan” data yang dilakukan oleh pemerintah.

Demokrasi Anarki   
Sebagai penutup, romo setyo sedikit mengulas tentang demokrasi yang anarkis. Menurut romo, suasana demokrasi kita lebih mirip dengan suasana di Athena pada abad ke-4 SM.  Dalam rezim demokrasi, semua setuju bahwa hukum (yang menjamin kesamaan para warga negara) sangat penting. Oleh karena itu hukum mesti ditaati oleh semua pihak, termasuk para pemimpin rezim demokrasi itu sendiri. Namun ketika hukum demokratis tidak dijalankan secara tertib, ketika konstitusi justru dikalahkan oleh perundang-undangan lebih rendah yang bertentangan dengannya, masyarakat masuk dalam situasi “tanpa prinsip dan tanpa komandan”, dan menjadikan demokrasi itu menjadi anarki, tandas romo.
Akhirnya, diskusi yang dimulai pada pukul 15.00 ini berakhir pada pukul 18.00. Terimakasih romo, terima kasih kawan-kawan kelas pemikiran Gus Dur. Sampai jumpa di session ke-lima.
(MIM)


PALING DIMINATI

Back To Top