Bismillahirrohmaanirrohiim

Jaring-Jaring Pendidikan


Oleh: M. Nova Burhanuddin

ما من آية في كتاب الله تعالي ولا كلمة في الوجود إلا ولها ثلاثة أوجه جلال وجمال وكمال. فكمالها معرفة ذاتها وعلة وجودها وغاية مقامها.
وجلالها وجمالها معرفة توجهها على من تتوجه عليه بالهيبة والأنس والقبض والبسط والخوف والرجاء.

ابن عربي

“Tiada satu ayat pun dalam Kitabillah, tiada pula satu kata dalam wujud kecuali pasti memiliki tiga sisi: keagungan, keindahan dan kesempurnaan. Kesempurnaannya adalah mengetahui dzatnya, ‘illat wujudnya dan puncak maqamnya. Sementara keagungan dan keindahannya adalah mengetahui orientasinya terhadap person yang dihadapi dengan karisma dan grapyak, penyempitan dan perluasan, takut dan harap.”
Ibn ‘Arabi
  
Pendidikan sebagai langkah transmisi ilmu, pengetahuan dan nilai meniscayakan tiga elemen penting yang merupakan turunan dari tiga pondasi dasar. Tiga elemen penting itu adalah pendidikan, pendidik, dan anak didik. Sementara tiga pondasi dasar itu adalah al-wujûd, al-barzakh, dan al-‘âlam. Pendidikan sebagai sebuah simbol kehidupan tercitrakan dari konsepsi al-wujûd itu sendiri. Landasan konsepsi itu adalah kelaziman al-wujûd yang berelasi dengan al-‘âlam melalui al-barzakh. Relasi ini melingkupi segala hal, segala aktivitas, segala kemungkinan, segala detil dan segala sesuatu. Pendidikan sebagai simbol transmisi ilmu, pengetahuan dan nilai tentu saja masuk dalam segala ini.  Pendidik sebagai simbol al-barzakh lantaran menjadi perantara antara al-wujûd sebagai sumber aktivitas pendidikan dan al-âlam sebagai objek pendidikan. Sementara anak didik sebagai simbol al-‘âlam lantaran merupakan objek transmisi dan lahan interaksi terhadap laku pendidikan dalam relasinya dengan pendidik dan anak didik.

Tiga elemen dalam relasinya dengan tiga pondasi dasar ini bersinergi secara menyeluruh dan silang-menyilang dalam proses menuju siklus penciptaan yang abadi. Artinya, tiga ini dan tiga itu dalam proses sinergi ini mengandaikan keterkaitan yang begitu erat dan sekali lagi begitu erat sehingga bahkan memiliki keterkaitan di luar jalur resminya dalam tuntutannya pada proses penciptaan yang abadi. Pendidikan yang terpondasikan dengan al-wujûd terkadang berelasi dengan al-barzakh dan al-‘âlam sebagai kelaziman, bukan keniscayaan relasi dalam proses penciptaan abadi itu. Pendidik yang terpondasikan dengan al-barzakh terkadang berelasi dengan al-wujûd dan al-‘âlam; begitu juga anak didik yang terpondasikan dengan al-‘alam terkadang berelasi dengan al-wujûd  dan al-barzakh, keduanya juga sebagai kelaziman dalam proses penciptaan abadi tersebut.

Hubungan menyeluruh dan silang-menyilang ini membuat kita sulit menentukan pasangan pondasi dasar yang cocok untuk tiap elemen penting tersebut. Cara yang bisa digunakan untuk mengatasinya adalah menetukan karakter dasar dari tiap elemen penting untuk melihat kecocokannya dengan simbol wujud yang tercitrakan dalam tiga pondasi dasar itu. Tanpa mengetahui karakter dasar ini, kita akan tersesat dalam citra-citra sekilas yang sering ditampilkan oleh satu elemen penting dalam relasinya dengan elemen penting lain, sebagai efek dari relasinya dengan citra pondasi dasar yang sebetulnya bukan pasangannya yang cocok--karena proses penciptaan abadi terlalu simpel untuk dipetakan dalam kerangka yang jelas dan tegas meskipun bukan tak mungkin dipetakan. Sehingga menjadi wajar seorang pendidik, misalnya, seolah mempresentasikan diri sebagai anak didik, meski pada dasarnya itu hanya salahsatu rangkaian dalam kerja pendidik. Atau dia malah terkadang terlebur dengan proses pendidikan seolah menyatu menjadi satu tanpa kenal identitasnya: dia pendidik atau anak didik atau pendidikan itu sendiri. Seorang anak didik terkadang bertingkah keluar dari relnya, seolah menjadi seorang pendidik yang malah mengatur, tak mau diatur. Atau dia malah terkadang terlebur dengan proses pendidikan seolah menyatu menjadi satu tanpa kenal identitasnya: dia anak didik atau pendidik atau pendidikan itu sendiri.            

Abstraksi di atas memberikan kita sejumlah petunjuk bagaimana pendidikan berelasi dengan pendidik dan anak didik sebagai efek atas relasi antar al-wujûd, al-barzakh dan al-‘âlam. Dengan ini, kita jadi semakin tahu bagaimana relasi antar elemen dan pondasi dasar di atas bekerja, dan dari sana kita bisa menentukan model paling ideal dari konsep pendidikan itu sendiri, capaian paling ideal dari seorang pendidik, dan usaha paling ideal dari seorang anak didik. Keterkaitan antar elemen dan pondasi dasar ini mengantarkan kita pada bahwa tujuan pendidikan bukanlah terbentuknya anak didik yang berkualitas secara intelektual, moral dan spiritual, melainkan membentuk suatu iklim di mana semua elemen dan pondasi dasar ini bekerja sedemikian rupa sehingga tak ada satu bagian pun dari keenam pokok tersebut tercederai secara intelektual, moral dan spiritual akibat lemahnya salahsatu pokok di atas. Satu pokok bengkok, pokok-pokok yang lain akan bengkok. Atau katakanlah, seandainya ada yang bengkok, idealnya dalam kerangka kerja yang telah diuraikan di atas, pokok-pokok lain yang lima ini membantunya tegak kembali seperti sedia kala. Itulah mekanisme jaring-jaring pendidikan yang ideal.

Memahami konsep semacam ini tak begitu sulit. Yang sulit sebenarnya aplikasi di lapangan. Yakni terkait bagaimana kita menentukan relasi antar elemen dan relasi antar pondasi dasar, serta relasi antar elemen-elemen dan pondasi-pondasi dasar, yang terwujud dalam proses belajar-mengajar. Kenapa sulit? Karena jaring-jaring pendidikan yang enam di atas terliputi oleh konsep al-wujûd itu sendiri yang dalam proses penciptaan abadi ditaqdirkan untuk selalu berepresentasi secara variatif sesuai dengan tiga sifat Allah yang utama: jalâl, jamâl dan kamâl. Sifat kamâl melingkupi segala sesuatu dengan keniscayaan usaha mengetahui hakikat dzatnya, ‘illat wujudnya, dan puncak maqamnya. Sementara jalâl dan jamâl mewarnai segala sesuatu dengan kesadaran akan audiens atau sasaran orientasi dengan variasi sifat karisma dan grapyak, penyempitan dan perluasan, serta takut dan harap. Sehingga menjadi wajar perbedaan menyikapi proses pendidikan terhadap variasi karakter anak didik, ragam kecenderungan pendidik, serta warna-warni model pendidikan.
Landasan kewajaran perbedaan menyikapi ini bukan semata strategi “lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali”, kompromi sosial, tekanan politik, maupun serbuan budaya. Kita akan mudah terjatuh pada klaim-klaim yang disebut baru saja dan selalu saja menghukumi segala sesuatu dengan acuan pokok kondisi riil di lapangan, jika kita tak mengetahui hakikat pendidikan, keniscayaannya, dan relasinya dengan al-wujûd. Kita juga dengan begitu akan seenaknya memangkas habis nilai pendidikan dalam serangkaian program unggulan, metode pendidikan paling mutakhir, capaian jangka pendek dan jangka panjang, serta nilai profit sebuah yayasan pendidikan. Yang terjadi kemudian adalah menyusutnya kehidupan dalam lembar rencana kerja, bangkrutnya fenomena dalam baris statistik, dan keringnya gairah hidup dalam pemenuhan kebutuhan. Akan tetapi, landasannya adalah keniscayaan pendidikan sebagai citra al-wujûd yang berelasi secara menyeluruh dan silang-menyilang dengan al-barzakh dan al-‘âlam dalam tiga variasi sifat jalâl, jamâl, dan kamâl, sebagaimana tersirat dalam uraian di atas. Sementara keniscayaan relasi antara pendidik dan anak didik dalam warna-warni kerangka kerja pendidikan hanya merupakan efek dari relasi aktif-variatif tiga pondasi dasar itu. Efek itu terlihat  makin jelas ketika kita melihat bagaimana berkembangnya metode pembelajaran dan pendidikan seturut dengan perkembangan anak didik dan objek kajian dalam relasinya dengan pendidikan. Meskipun perkembangan ini diwarnai dan dibarengi dengan perubahan kondisi sosiopolitik dan budaya yang mengitarinya, namun bukan berarti tanpa kondisi sosiopolitik dan budaya tersebut perkembangan itu tak bisa muncul. Karena seringkali ide mendahului konteks--meskipun untuk membuat ide jadi layak konsumsi umum, diperlukan konteks penjelas.

Memaklumi perbedaan menyikapi proses pendidikan bisa mengantarkan kita pada lahan yang lebih luas terkait relevansinya dengan kehidupan kontemporer. Tentu saja pemakluman ini menjadi begitu berarti kini ketika kita percaya dan bisa membuktikan bahwa masa kini ditandai dengan fenomena keragaman yang luar biasa terus menerus bermunculan yang diimbangi dengan meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memahami sesuatu yang berbeda. Masyarakat pada akhirnya menjadi maklum, karena mau tidak mau mereka jua pemicu keragaman tersebut. Kesadaran diri masyarakat ini menuntunnya untuk tak bisa menolak sesuatu yang ditimbulkan—meski secara langsung atau tidak langsung—oleh mereka sendiri dengan total. Artinya, resistensi selalu muncul, disertai dengan penerimaan yang berangsur-angsur. Lahan luas yang dimaksud di sini adalah terbukanya lahan-lahan baru yang sebelumnya tak terjamah, atau tak mau dijamah, untuk diintegrasikan dalam konteks pendidikan yang lebih luas. Pendidikan kini dipahami dengan pemaknaan yang lebih luas, bahkan melampaui formalitas pendidikan yang menjadi gejala umum pada zaman modern. Munculnya kasus-kasus keberhasilan dari luar formalitas pendidikan membuat banyak orang terbuka matanya untuk menerima kemungkinan-kemungkinan lain dari proses pendidikan. Dalam konteks kemasisiran kita di sini, kemungkinan-kemungkinan itu kian diperteguh dengan penerimaan yang akulturatif akan perkembangan dunia akademik di luar kampus, seperti kini ramai di tempat-tempat talaqqi dan kelompok kajian.[]

Nasr City, 5 Maret 2012

Sumber : http://lakpesdam.numesir.com/index.php?option=com_content&view=article&id=49:jaring-jaring-pendidikan&catid=3:artikel&Itemid=10

PALING DIMINATI

Back To Top