Bismillahirrohmaanirrohiim

Membedah Pemikiran Syaikh Yasin al-Fadani


oleh Lakpesdam Mesir pada 23 Agustus 2011 pukul 22:33

Sabtu, 20 Agustus 2011, Lakpesdam Mesir kembali menggelar “Kongkow Ramadlan Lakpesdam Mesir” untuk memdedah pemikiran Seikh Muhamad Yasin al-Fadani. Pemateri kali ini adalah M. Nora Burhanudin, anggota kajian Lakpesdam Mesir sekaligus koord. Ghazalian Center, dan Ronny G. Brahmantyo, aktivis Lakpesdam dan Mizan Study Club. Acara ini dimoderatori oleh Abdul Mun’im Kholil, anggota Lakpesdam.

Mengawali acara, Abdul Mun’im sebagai moderator sore itu mengatakan, Seikh Yasin al-Fadani adalah seorang alim kaliber dunia yang memiliki sumbangsih melimpah bagi keilmuan Islam, khususnya dalam upaya melestarikan tradisi pakar hadist dalam berburu sanad ‘ali (sanad tertinggi), hingga beliau dijuluki sebagai musnid al-dunya (pakar sanad sejagat). Yasin al-Fadani berhasil menjadi muara sanad hadist dan disiplin ilmu lainnya masa itu.

Narasumber pertama, M. Nora Burhanudin, mengawali pembukaannya dengan pernyataan, “al-Fadani memang layak menyandang gelar Musnid al-Dunya 'ala al-ithlaq (pakar sanad sedunia yang tak tertandingi) . Mungkin gelar itu terdengar berlebihan di mata orang Indonesia. Tapi bagi orang Arab, apalagi yang mengetahui ilmu hadits, itu biasa saja, tak berlebihan. Paparnya, menurut beberapa kawan  Syeikh Yasin al-Fadani bukan ahli hadits, tapi  hanya musnid. Namun pendapat ini kurang tepat karena gelar Musnid mengalami perkembangan makna; zaman dulu: tahu periwayatan hadist saja, tanpa tahu dirayah (kecakapan mengenai hadist).  Namun musnid masa kini lebih umum dari sekedar itu.
M. Nora kemudian memferivikasi beberapa terma yang acapkali dipakai dalam dunia hadist. Syarat menjadi Muhaddits menurut al-Subki: harus menelaah seribu juz kitab hadits, mendengarnya dari para muhadditsin, memiliki catatan-catatan hadits yang ia dengar, dan selalu ia koreksi catatan itu, dan masih banyak lagi. Dalam konteks sekarang, sulit menemui pakar hadits seperti ini. Sehingga gelar muhaddits zaman sekarang lebih cenderung sebagai tabarruk.

Dalam konteks ini al-Fadani bisa masuk kategori muhaddist. Pasalnya beliau pernah mendengar langsung dari Seikh Ahmad bin Muhamad al-Shiddiq al-Ghummari yang sampai pada derajat al-Hafidz, dan banyak kalangan berasumsi bahwa al-Ghummari adalah orang paling akhir bergelar Hafidz. Yang menarik di sini, ternyata Imam al-Suyuthi sendiri belum bisa disebut muhaddist karena hanya menghafal dari kitab, bukan dari sama'(mendengar langsung dari guru)—menurut beliau.

Dulu, ada sebuah fenomena unik dalam doktrin ilmu hadist: bila ada seorang mendengar hadist kemudian dicatat dan bukan dihafal maka itu dianggap aib. Namun setelah masa tadwin, sekitar 500 H, yang dibuat pegangan dalam riwayat hadits adalah kitab-kitab. Termasuk diantaranya Al-Bukhari. Ia menulis dalam bukunya “Saya menghafal 300.000 hadits shahih. Tapi yang saya tulis dalam Jami' al-Shahih hanya 100.000 saja”.

Setelah sedikit mengupas tentang tradisi di kalangan pakar hadist. Ia kemudian kembali mengindetifikasi kepakaran al-Fadani dalam hadist: apakah al-Fadani masuk kategori muhaddits ataukah musnid? “Saya sepakat beliau disebut muhaddits sekaligus musnid” ungkap Nora tegas. Terbukti dengan syarah-nya terhadap buku Sunan Abi Dawud, yang sebanyak 20 jilid. Dengan pertimbangan  Sunan Abi Dawud yang memuat hadist-hadist hukum. Tentunya untuk mengomentari sunan Abu dawud butuh kepakaran tertentu dalam banyak bidang ilmu.

Sekedar tambahan data, bahwa al-Rafi'i berpendapat: orang bisa jadi mujtahid cukup dengan mendalami Sunan Abu Dawud. Meski kemudian pendapat ini dibantah oleh al-Nawawi, karena hadits-hadist ahkam tak hanya ada di Sunan Abu Dawud. Khilaf kedua tokoh ini bukan poinnya, melainkan ini menunjukkan bahwa Sunan Abi Dawud memiliki kedudukan cukup tinggi dalam bidang hadits al-ahkam. Artinya, jika bukan seorang fakih Al-Fadani tak mungkin mampu men­syarahinya.
Untuk mengenal lebih dekat sosok al-Fadani tak cukup hanya mengacu pada kepakaran hadistnya saja tapi juga pada isnad. Karena dari 100 bukunya, 60 diantaranya berkaitan dengan isnad.

Setelah M. Nora Burhanudin mengurai penjelasannya panjang lebar, Abdul Mun’im Kholil selaku moderator memberikan waktu kepada Rony G. Brahmantyo sebagai narasumber kedua untuk menambahkan penjelasan terkait  Seikh Muhamad Yasin al-Fadani dan sumbangsih pemikirannya kepada generasi Islam-Nusantara.

Di awal penjelasan, Ronny memberikan info tambahan terkait Yasin Padang. Gelar musnid al-dunya tak didapat hanya karena banyaknya guru, yang kabarnya sampai 700 itu. Tapi lebih pada kepakarannya dalam bidang yang ia geluti. Merujuk pada Seikh Mahmud Said Mamduh, salah seorang murid beliau, al-Fadani juga kerapkali menerima permintaan fatwa. Itu artinya, tokoh ini tak hanya pakar dalam isnad tapi juga ilmu syariat lainnya.

Masih menurut Seikh Mamduh, al-Fadani memang sosok ulama yang sangat tawadlu’. Karyanya mengenai ushul fiqh, Syarh al-Luma’ 2 jilid tebal, terpaksa tak jadi dicetak gara-gara guru beliau , Seikh Yahya Aman, sudah terlebih dahulu mengirim naskah yang sama ke percetakaan. Beliau berkaca pada kasus sebelumnya, saat mencetak Hasyiyah al-Taisir miliknya, yang ternyata membuat karya serupa Seikh Yahya Aman tak laku di pasaran.

“Adapun mengenai buku Syarh Sunan Abu Daud yang masih dalam bentuk manuskrip dan tak kunjung nongol di toko-toko buku, disebabkan beberapa jilid I, III & XIII raib saat pindah rumah” ungkap Rony menukil pengakuan Seikh Mamduh.

“Selanjutnya, saya akan fokus ke tahun 1305 H di Mekkah, di mana al-Fadani lahir. Ia berkewarganegaraan Saudi Arabia, bukan Indonesia, meski ia keturunan Indonesia. Beliau hidup di Saudi ketika hegemoni Wahhabiyah mencengkeram kuat.” Rony melanjutkan pemaparannya.

Kemudian ia masuk madrasah Shaulatiyah. Ia mulai membaca Jam'ul Jawami' dll. Ada kisah menarik, di mana al-Fadani pernah keluar dari Shaulatiyah, gara-gara ada seorang guru yang menyobek koran berbahasa melayu, sekitar 1928. Darah nasionalismenya naik dan beliau memutuskan keluar untuk kemudian mendirikan Madrasah Darul 'Ulum.

Sayid Segaf bin Muhamad Al-Segaf, seorang tokoh terkenal di Hadramaut Yaman, pernah menyebut al-Fadani sebagai Imam Suyuthi masa kini. Karena karya-karya beliau yang mencapai 100 lebih dalam beragam kajian ilmu Islam.

Syeikh Yasin al-Fadani termasuk guru Syeikh 'Ali Jum'ah, Mufti Mesir saat ini. Ketika menjadi editor (muhaqqiq) buku Jauharat al-Tauhid, Seikh Ali Jum’ah sempat menyebut sanad yang bersambung pada  Syeikh Yasin al-Fadani. Al-Fadani  juga termasuk murid Kiai Hasyim Asy'ari, pendiri NU. Meski tidak secara langsung.

Al-Fadani termasuk sosok ulama kharismatik yang cukup bersahaja “Kadang ketika mengajar beliau hanya memakai sarung dan kaos oblong saja” Ungkap Rony antusias. “Nafas beliau adalah belajar dan mencari sanad.” tambah Rony.

Menurut Rony, Syeikh Al-Fadani adalah orang yang paling canggih menggabungkan antara 4 elemen seperti diungkap Umberto Eco. Ia terbelakang dalam ekonomi, ia hanya fokus mencari ilmu.

Meski al-Fadani warga Mekkah tapi tetap menyandangkan nama marganya, al-Fadani. Ini menunjukkan bahwa nasionalisme al-Fadani tak luntur. Meski begitu al-Fadani akan terlihat polos jika diajak bicara politik. Terbukti saat muktamar NU, sekitar tahun 70-an, di Indonesia. Al-Fadani hanya diam kaku.

Akibat cara hidup tradisional-agamis dan hanya diapresiasi oleh kalangan tradisional. Maka ia lebih dikenal dengan kharismanya sebagai musnid al-dunya, bukan keilmuannya.[Munim]

PALING DIMINATI

Back To Top