Bismillahirrohmaanirrohiim

RAKSASA INTELEKTUAL ISLAM


Sangat menarik jika kita membaca jejak kemenangan para pelaku sejarah, disana kita mendapatkan sedikitnya 3 kemampuan, ialah:
1. Tekad dan persatuan
2. Strategi
3. Senjata canggih.
 
Para Penakluk tidak akan pernah lepas dari 3 hal diatas, yang paling menarik adalah soal senjata, kita mengenal Nabi Dawud yg tiba2 muncul disaat yg kritis dg senjata canggihnya yaitu ketepel Besi dg lontarannya yang memporak porandakan musuh, kita mengenal Sayyidina Ali dengan Pedang Dzul Faqornya yang mampu membelah badan musuhnya sekaligus dengan kudanya.
 
Kita juga mengenal Shalahuddin penakluk konstantinopel dengan ketajaman pedang damascusnya yang mampu membelah tameng baja para templar.
 
Akan semakin menarik, jika kita fokuskan pada besi2 yg dijadikan senjata mereka beserta kedahsyatannya dg sebuah ayat yang unik:
 
وأنزلنا الحديد فيه بأس شديد
 
"Dan Kami turunkan BESI yg didalamnya terdapak kekuatan yang dahsyat"
 
Anehnya, tak pernah ada fakta bahwa ada besi yang melayang layang turun dari langit ke bumi, kecuali ada pesawat terbang yang jatuh, itupun berasal dari bumi juga, bukan pesawat asli dari langit.
 
Untuk mengatasi kebuntuan itu para mufassir menafsirkan anzalna (menurunkan) dengan tafsir ja'alna (menjadikan). Masalah ini akan terlalu panjang jika dibahas, yang jelas ilmu pengetahuan memberikan fakta bhw besi memang benar benar diturunkan dari langit, tentu saja yg dimaksud adalah prosesnya.
 
Ulama kita jauh lebih menyadari akan pentingnya sebuah ilmu perbesian ini, sebut saja Al Kindi dan Abu Raihan Al Biruni dg karya terkenalnya "al jamahir fi ma'rifatil jawahir"
 
Keduanya adalah ilmuan2 yg karyanya diserap tuntas oleh barat, karena kekaguman mereka atas rahasia dibalik kekuatan pedang persia.
 
Memang benar, barat telah sukses menyedot ratusan disiplin ilmu dari para pakar Islam, mulai dari fisika, matematika, teknologi, metalogi, astronomi dll.
 
Bagaimana dg Kaum Muslimin? Ilmu orang Islam benar2 telah disedot habis oleh mereka, hanya ada satu yang tertinggal, yaitu ILMU DEBAT.
 
Mahmud Ghaznafi, seorang penakluk Muslim yang besar dari abd 11 menduduki tempat terkemuka diantara para pelindung ilmu pengetahuan. Mahmud Ghaznafi mengikut ssertakan dalam pemerintahannya dua pemimpin besar dunia Islam, yaitu Firdausi dan Al Biruni. Firdausi menjadi penulis karya kenamaan Syahnama, yang dikenal di seluruh dunia, sedangkan Al Biruni adalah jenius yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan pada zamannya, satu diantara pemikir terbesar Islam, dan yang di masa hidupnya merupakan raksasa intelektual terbesar dari abad pertengahan. Ibnu Sina dikatakan pernah menyingkir karena takut bersaing dengan Al Biruni.
 
Abu rayhan Muhammed Ibnu Ahmad Al-Biruni terlahir menjelang terbit fajar pada 4 september 973 M di Kath (Kiva sekarang). Sebuah kota di sekitar wilayah aliran sungai Oxus, Khwarizm (Uzbekistan), atau di kawasan Danau Aral Asia tengah. Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Al-biruni dalam biografinya mengaku sama sekali tidak mengenal ayahnya dan hanya sedikit mengenal kakeknya.
 
Selain menguasai beragam ilmu pengetahuan, Al-biruni juga fasih dengan sederet bahasa seperti Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi dan Suriah. Semasa muda dia menimba ilmu matematika dan astronomi dari Abu Nasir Mansur.
 
Kemenangan Mahmud membuka kawasan timur laut India bagi Agama Islam, dan Al Biruni memanfatkan peluang emas untuk berkelana selama 20 tahun menjelajahi anak Benua itu, sekaligus mempelajari filsafat Hindu, ilmu pengetahuan dan agama dari para pandit terpelajardan sebagai gantinya menyebarkan ilmu Arab dan Yunanikepada mereka. Pada usia mudanya beliau masih menyempatkan diri untuk mempelajari bahasa Sanskrit, agar dengan mudah menguasai perbendaharaan yang luas dari ilmu pengetahuan India. Perburuan ilmu yang dilakukan Al Biruni ke berbagai penjuru menghabiskan 40 tahun dari masa hidupnya.
 
Sejarawan terkenal dari India, Sir J.N Sircar, mengatakan, "Hanya sedikit yang memahami fisika dan metafisika, Dianatara yang sedikit itu, yang terbesar di Asia adalah Al Biruni sekaligus filosuf, dan ilmuwan, serta unggul di kedua lapangan yang berbedaitu". Al Biruni menduduki tempat yang mulia da antara orang orang arif yang dihasilkan Dunia Islam.
 
Selanjutnya baca di:

PALING DIMINATI

Back To Top