Bismillahirrohmaanirrohiim

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (59) : AKU PILIH RUMAH TANGGA HARMONIS

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah,semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­------
AKU PILIH RUMAH TANGGA HARMONIS

Sebenarnya kadang-kadang muncul juga keinginan dalam hati untuk seperti teman-teman. Membaguskan rumah, membaguskan mobil, terus membaguskan istri juga. Hehehe... Tapi ketika saya tengok kejujuran dalam relung hati saya yang paling dalam, (maaf ini hanya khusus pribadi saya sendiri, dan saya tidak ngerti dengan pribadi orang lain), ternyata keinginan itu hanyalah keinginan nafsu belaka. Itulah sebabnya saya memilih untuk menahan dan menentang tidak memenuhi keinginan itu, meski sebenarnya saya mampu meski dengan (mungkin) agak sedikit serba saya paksakan.

Bisa saja saya membaguskan rumah, membaguskan mobil, tapi resikonya uang saya habis atau bahkan saya malah jadi punya hutang dan hidup saya menjadi tidak tenang, jauh dari kedamaian dan ketentraman. Lagipula jika ada saudara atau tetangga atau siapapun datang ke tempat saya untuk minta tolong, maka saya tidak bisa menolongnya. Tidak bisa membantunya. Padahal jika saya mengikuti Nabi, maka untuk bisa memiliki rumah yang bagus, saya tidak harus mengeluarkan banyak uang, karena rumah yang paling baik menurut Allah, ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim, dan di rumah itu anak yatim itu dimuliakan. Dan kendaraan yang paling bagus adalah kendaraan yang bisa menyampaikan ke tujuan dengan selamat. Tidak bagus, malah aman.

Bisa saja saya membaguskan istri. Maksud saya punya istri lagi yang lebih muda dan lebih cantik (bukan ditukar tambahkan. hehehe...). Kalau istri tua setuju ya alhamdulillah, kalau tak setuju (apa boleh buat) terpaksa tak masalah juga. Malah ada alasan untuk menceraikannya sekalian, daripada ngrepot-ngrepot­i. Ganggu aja. Hehehe....Tapi resikonya rumah tangga saya mesti jadi tidak ideal. Hubungan dengan istri jadi pincang, hubungan dengan anak juga tidak harmonis. Masih beruntung kalau anak-anak tidak lantas broken home.

Tak mungkin aku tega mengorbankan keharmonisan rumah tanggaku hanya demi nafsuku. Tak mungkin aku melukai perasaan anak-anakku, dan mempertaruhkan masa depan mereka, hanya demi nafsu. Alangkah tidak bersyukurnya aku jika tega melakukan hal seperti itu. Hanya orang-orang yang rumah tangganya bermasalah saja yang pantas melakukan hal seperti itu, dan syar'y meridhainya. Sedangkan rumah tanggaku, alhamdulillah. Dengan istri yang yang sangat kucintai dan sangat mencintaiku, dengan 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan yang sangat membanggakan dan membahagiakanku­, rumah tanggaku adalah surgaku.

Mungkinkah aku begitu bodoh hingga bisa diperdaya oleh nafsuku? Mungkinkah aku membuang surgaku hanya demi kepuasan nafsu yang aku tahu takkan ada puasnya? Mungkinkah aku akan menukar nikmat Allah dengan murkaNya?
Iiiiiihhh...Eng­gak banget deh.... Hehehe.....

PALING DIMINATI

Back To Top