Bismillahirrohmaanirrohiim

KEINDAHAN DI MASJID AL-HARAM, MAKKAH: BERSATU DALAM PERBEDAAN

Makkah al-Mukarramah hari-hari ini adalah kota kecil paling sibuk di dunia. Tidak ada satupun kota sesibuk Makkah. Suasana hiruk pikuk, lalu-lalang dan suara gemuruh, tetapi damai berlangsung tanpa henti, setiap waktu, setiap saat. Di kota itu ada masjid yang paling dihormati kaum muslimin sedunia: Masjidil Haram. Masjid ini ditaburi cahaya yang berpendar bagai siang dengan sinar matahari yang lembut.    

Di dalam masjid ini ada Ka’bah, sebuah bangunan berbentuk kubus. Al-Qur’ân menyebutnya; rumah pertama yang dibangun untuk manusia beribadah kepada Tuhan. Ia juga disebut Al-Bait al-‘Atiq (Rumah Tua). Ia konon dibangun 2000 tahun sebelum Masehi oleh bapak para Nabi: Ibrahim A.s dibantu anaknya; Ismail. Sejak itu sampai hari ini rumah kuno itu tidak pernah sepi dari orang yang berjalan mengitarinya sambil memuji Tuhan (tawâf). Pada musim haji lebih dari tiga juta orang dari seluruh penjuru dunia datang dan berada di tempat ini dalam waktu yang sama. Mereka datang dengan seluruh latarbelakang identitas dirinya yang amat beragam; bahasa, warna, jenis kelamin, kebangsaan, politik, paham keagamaan, sekte atau mazhab yang berbeda-beda. Ada mazhab Sunni dengan aneka faham fiqhnya, ada Syi’i (Syî’ah) juga dengan ragam alirannya, ada pula yang bermazhab Mu’tazilah (rasionalis), kaum “liberalis”, “fundamentalis”, “ultra konservatif”, mazhab Wahabi, Ahmadiyah : Lahore atau Qadiyan, dan orang-orang yang tidak menganut aliran Islam apapun. Di tempat ini juga berkumpul masyarakat Indonesia dengan beragam partai politik, beragam organisasi keagamaan dan beragam pengetahuan agama dan beragam suku, bahasa, tradisi dan budayanya.

Sungguh indah sekali melihat pemandangan di tempat ini. Perbedaan-perbedaan latarbelakang dan asal-usul social-budaya-politik tersebut ternyata bisa dan dapat bersatu, bisa saling menghormati satu sama lain dan tertawa bersama-sama. Mereka bisa berjalan beriringan dengan damai, saling bergandengan tangan, saling menolong, saling membantu dan mendukung, bahkan juga tidak jarang saling memberi makanan dan minum, bercandaria di tempat-tempat minum teh. Bahkan di depan Ka’bah itu, laki-laki dan perempuan bisa berjalan, pelan atau cepat bersama-sama, beriringan, mengelilingi bangunan kuno itu dan kadang berebut mencium Hajar Aswad (batu hitam) yang terletak di sudut Ka’bah. Mereka berbeda, tapi satu tujuan.

Di tempat itu mereka tidak mempertanyakan, memperdebatkan semua latarbelakang yang beragam tersebut. Antara mereka sama sekali tidak mengucapkan kata-kata kasar yang melukai hati dan mengancam, tidak pula tuduh menuduh, sesat-menyesatkan, apalagi saling mengkafirkan, atau memusyrikkan. Semuanya bisa shalat berdampingan di bawah satu Imam. Mereka menjadi makmum dari seorang imam yang bukan mazhab mereka. Tak lagi dipersoalkan apakah Imam membaca bismillah ketika membaca al-Fatihah atau tidak. “Mazhab al-Makmum Madzhab Imamih” (pandangan makmum adalah pandangan Imamnya), begitu ulama menyebutnya. Tidak ada lagi dipersoalkan celana yang dipakainya cingkrang atau panjang. Tak ada lagi dipersoalkan apakah dagunya berjenggot atau kelimis. Dan seterusnya.  

Mereka semua merasa diri sebagai hamba-hamba Tuhan. Mereka adalah manusia-manusia yang menyerahkan diri hanya kepada Tuhan (Muslimun). Mereka adalah “ahl al-Qiblah” (orang shalatnya menghadap ke arah Ka’bah).

Betapa indahnya fenomena kebersamaan dan kesatuan itu, meski mereka berbeda. Dan betapa manisnya jika saja mereka bisa tetap mempraktikkan kebersamaan dan saling menghormati seperti itu, manakala mereka kembali ke rumahnya, ke daerahnya dan ke tanah airnya dan di manapun di atas bumi Tuhan ini.

Cirebon, 131013

https://www.facebook.com/notes/husein-muhammad/keindahan-di-masjid-al-haram-makkah-bersatu-dalam-perbedaan/10151758248494811

PALING DIMINATI

Back To Top