Bismillahirrohmaanirrohiim

MAULID NABI (bag. 2)

Kidung-Kidung Cinta Nabi

Penulisan Sirah Nabawiyyah (Sejarah Hidup Nabi Muhammad) dalam bentuk puisi-puisi ditulis, antara lain,  oleh Syeikh Al-Barzanji (w. 1177 H). Masyarakat menyebutnya:  “Maulid al-Barzanji”. Ia, yang nama aslinya Zain al-Abidin Ja’far bin Hasan ibn Abd al-Karim al-Husaini al-Syahrzuri, adalah ulama bermazhab fiqh Maliki. Meski puisi-puisi ini dibuat sederhana, agar mudah dimengerti masyarakat luas, tetapi ia sungguh-sungguh memesona dan penuh makna. Puisi-puisi itu dinyanyikan dan dihapal oleh masyarakat muslim hampir di seluruh dunia muslim, tak terkecuali Indonesia. Pada saat puisi-puisi itu bercerita tentang kelahiran Nabi ia dibacakan sambil berdiri, lambang penghormatan terhadap orang besar yang dibayangkan datang dan hadir di tengah-tengah mereka. Al-Barzanji antara lain menyenandungkan kidung Madah-Madah dan puisi-puisi Na’tiyah ini:

Aduhai Nabi, Selamat dan Damailah Engkau 
Aduhai Rasul, Salam dan Damailah Engkau 
Aduhai kekasih, Selamat dan Damailah Engkau 
Sejahteralah Engkau     
Telah terbit purnama di tengah kita  
 Maka tenggelam semua purnama 
Seperti cantikmu tak pernah kupandang
Aduhai wajah ceria      
Engkau matahari, engkau purnama 
Engkau cahaya di atas cahaya
Engkau permata tak terkira
Engkau lampu di setiap hati      
Aduhai kekasih, duhai Muhammad
Aduhai pengantin rupawan
Aduhai yang kokoh, yang terpuji
Aduhai imam dua kiblat      

Yusuf bin Ismail al-Nabhani mengkoleksi kidung-kidung cinta kepada Nabi, karya para ulama-sastrawan dari zaman ke zaman, sejak zaman Nabi, dalam 4 jilid tebal bukunya  yang terkenal : “Al-Mada-ih al-Nabawiyyah”. Di dalamnya terdapat antara lain, puisi-puisi karya Ka’ab bin Zuhair; Banat Su’ad”, Hasan bin Tsabit, al-Bushairi : Qasîdah Burdah”, dan lain-lain. Ia menghimpun 16 komposisi lagu ( Bahr/Buhur).  


Penyair terkemuka Mesir; Ahmad Syauqi Beik menggubah puisi madah yang memesona dan penuh keanggunan, untuk menghormati Nabi sang kekasih. Puisi-puisi ini dinyanyikan dengan amat indah dan melankoli oleh Penyanyi Legendaris : Ummi Kultsum.

Wulida-l-hudâ fa-l-kâ’inâtu dhiyâ’u
Wa fammu-z-zamâni tabassumun wa tsanâ’u
A-r-rûhu wa-l-mala’u-l-malâ’iku haulahu
Li-d-dîn-i wa-d-dunyâ bihi busyrâ’u
Wa-l-‘arsyu yazhû wa-l-hadzîratu tazdahîWa-l-muntaha wa-d-durratu-l-‘ashmâ’u

Telah lahir Sang Pembawa obor
Maka, Alam Raya pun berpendar cahaya 
Zaman tak henti-hentinya menebar senyum
Dan puja-puji dan kekaguman kepadanya
  
Jibril dan para Malaikat mengelilinginya
Dunia hari ini dan masa depan kemanusiaan bersuka-cita
Singgasana Kerajaan Tuhan (‘Arasy) berdiri begitu megah
Puncak alam semesta (Sidrah Al-Muntaha)
Mutiara memancarkan cahaya,
Dan semesta bernyanyi riang

Maulid Bukan Tradisi Sesat

Peringatan Maulid Nabi adalah tradisi umat Islam di seluruh dunia sepanjang sejarah sejak Salahuddin al Ayyubi (1193 M) menggagasnya sekaligus menyelenggarakannya. Salahuddin pada kesempatan itu juga mengadakan sayembara penulisan sejarah Nabi. Ia dikenal di dunia Barat sebagai Saladin, sang jendral yang cemerlang dan baik hati. Sejak saat itu, Maulid diselenggarakan di berbagai belahan dunia muslim, dari generasi ke generasi, sebagaimana antara lain sudah disebut. Perayaan ini sama sekali tidak bertentangan dengan Islam bahkan menjadi siarnya dan bentuk kecintaan kepada Nabi Saw. Jika ia salah atau sesat, niscaya seluruh dunia Islam tidak mentradisikannya. Sungguh sangat naif, jika ada orang yang membid'ahkannya (menganggapnya praktik keagamaan yang sesat) hanya semata-mata karena Nabi tidak menyelenggarakannya atau karena ia tidak ada pada masa Nabi. Ini adalah pandangan eksklusif dan amat sederhana, untuk tidak mengatakan “dangkal”, dalam memahami agama. Jika pandangan yang terakhir ini diterima secara luas, niscaya peradaban Islam akan berhenti, tenggelam, lalu mati. Ketiadaan sesuatu pada masa lalu tidak selalu harus tidak boleh ada pada masa yang lain. Pandangan yang cerdas, luas dan mendalam adalah ketika segala hal dipahami dan dimengerti  makna dan signifikansinya. Penghormatan, ungkapan kegembiraan dan rasa terima kasih kepada manusia besar dan agung, apalagi para utusan Tuhan adalah sikap yang diikuti oleh seluruh dunia kemanusiaan. Dalam konteks Islam, Nabi Muhammad dihadirkan Tuhan untuk membebaskan manusia dari system penindasan manusia atas manusia menuju dunia yang berkeadilan dan yang penuh cahaya pengetahun (Li Tukhrij al-Naas min al-Zhulumat Ila al-Nur). Bentuk dan cara adalah profane. Setiap zaman dan setiap komunitas dapat menciptakan cara-cara dan bentuk-bentuk yang relevan. Kita bisa membuatnya sesuai dengan tradisi dan kebudayaan kita masing-masing. Yang utama adalah keyakinan bahwa Muhammad bin Abdullah adalah manusia ciptaan Tuhan. Seluruh dunia tidak satupun yang memandangnya sebagai Tuhan. Di Pesantren Nabi  Muhammad disebut “Basyar la ka al-Basyar”. Ia bagai “Yaqut baina al-Hajar” (manusia tetapi ia yang istimewa di antara manusia. Ia bagai permata merah (rubi) di antara segala jenis bebatuan).

Maka upaya-upaya segolongan orang untuk menghentikan tradisi ini dan menganggapnya sebagai bentuk kesesatan sama artinya dengan “membunuh” tradisi yang baik yang telah mengakar berpuluh abad, menghapus  kebudayaan dan peradaban umat manusia yang indah dan cemerlang. Nabi adalah kekasih Tuhan. Para Sufi menyebut ; “al-Insan al-Kamil” (Manusia Paripurna). Dia serta Malaikat-malaikat-Nya memberikan penghormatan atas kelahiran sang cahaya ini.  

"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat Allah memberikan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Wahai orang-orang yang beriman, hormati, muliakanlah dan doakan keselamatan atasnya sungguh-sunguh".(Q.S. al-Ahzab [33]:56.

Akhirnya, Taufik Ismail, penyair terkemuka Indonesia, menulis syair amat elok dan menghunjam kalbu untuk Bimbo yang lalu mendendangkannya dengan penuh rindu,  menderu-deru dan indah sekali:

Rindu kami padamu Ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu Ya Rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suwarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Dan aku ingin menyampaikan :

Damai dan sejahteralah engkau wahai kekasih
Rindu menggamit palung jiwaku
sepanjang hari sepanjang malam
Selamat Datang sang cahaya
Selamat Datang

Husein Muhammad
Cirebon, 16 Januari 2014
Sumber :
https://www.facebook.com/notes/husein-muhammad/maulid-nabi-bag-2/10151959775744811

PALING DIMINATI

Back To Top