Bismillahirrohmaanirrohiim

SOSOK WANITA YANG MENYUSUI RASULULLAH SAW.

 Oleh : Sya'roni As Samfuriy

Yang pertamakali menyusui Rasulullah Saw. adalah ibunda tercinta Sayyidah Aminah binti Wahab Ra. Yang kedua adalah Sayyidah Tsuwaibah al-Aslamiyyah Ra. Baru kemudian yang ketiga adalah Sayyidah Halimah as-Sa’diyyah Ra.

Sayyidah Halimah Ra. adalah wanita suci nan mulia yang telah dilimpahi anugerah agung dari Allah Swt. dengan dipilihnya menjadi wanita yang menyusui dan merawat kekasihNya, Rasulullah Saw. Dan pada hakikatnya Allah Swt. telah menentukan pilihanNya tersebut serta menjaga kesuciannya dari perbuatan jahiliyyah. Dan Allah Swt. telah melimpahkan pula kepadanya kebersihan lahir batin, semata-mata hal itu adalah demi memuliakan dan mengagungkan Baginda Nabi Besar Muhammad Saw.

Sayyidah Halimah Ra. berdomisili di daerah yang bernama Bani Sa’d yang terletak di sekitar Thaif. Saait itu sedang mengalami paceklik yang sangat panjang. Meskipun demikian, dengan taufiq dan hidayah dari Allah Swt., Sayyidah Halimah Ra. senantiasa ridha, sabar dan selalu bersyukur kepada Allah Swt. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Nuzhat al-Majalis juz 2 halaman 79:

“Abdullah bin Abbas Ra. berkata: “Sesungguhnya Allah Swt. telah memerintahkan malaikatNya untuk menyerukan panggilan: “Wahai seluruh makhluk ciptaan Allah Swt. Ketahuilah oleh kalian semua, sesungguhnya telah lahir kekasih Allah Swt. Baginda Nabi Besar Muhammad Saw. Sungguh beruntung sekali makhluk yang dipilih untuk menyusui dan merawatnya.”

Setelah para makhluk Allah Swt. mendengar seruan tersebut, maka mereka memohon kepada Allah Swt. agar diizinkan untuk merawatnya, bahkan para malaikatpun sangat mengharapkan hal itu. Maka Allah Swt. berfirman: “Ketahuilah oleh kalian semua wahai makhlukKu. Sesungguhnya Aku telah menetapkan Halimah untuk merawat dan menyusuinya.”

Keadaan Sayyidah Halimah Ra. sebelumnya adalah wanita miskin nan susah kehidupannya. Namun beliau tetap memperbanyak bersyukur kepada Allah Swt. Meskipun kehidupannya semakin berat, makan seadanya dari tanam-tanaman yang ada di sekitarnya, ditambah lagi beliau baru saja melahirkan putera anak kedua, maka kesulitan demi kesulitan pun semakin bertambah dan memuncak. Sehingga beliau hanya makan sedikit sekali dalam seminggu.

Dalam keadaan yang penuh dengan kesengsaraan, beliau mimpi didatangi seseorang yang menuntunnya menuju telaga air yang putih jernih melebihi susu. Sayyidah Halimah Ra. disuruh meminumnya. Beliau kemudian minum sampai merasa kenyang dan bertanya: “Wahai Tuan, siapakah sebenarnya engkau?”

Orang tersebut menjawab: “Wahai Halimah, ketahuilah olehmu, sesungguhnya aku adalah al-Hamd yang berbentuk sebagai manusia dikarenakan pujianmu kepada Allah Swt. di saat kamu dalam keadaan sulit ataupun senang. Pergilah engkau ke Makkah, niscaya kamu akan mendapati kemakmuran dari sana.”

Maka 7 hari kemudian, setelah Rasulullah Saw. lahir, Sayyidah Halimah Ra. bersama suami dan anaknya yang bernama Abdullah pergi ke Makkah untuk mencari penghasilan (merawat dan menyusui bayi). Sebagaimana disebutkan dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam halaman 37, Sayyidah Halimah Ra. menceritakan dirinya:

“Aku, suamiku dan anakku yang masih kecil pergi ke Makkah beserta rombongan dari Bani Sa’ad untuk mencari penghasilan (merawat dan menyusui bayi). Dan hal itu terjadi pada tahun paceklik yang sangat dahsyat sehingga hewan-hewan ternak kami banyak yang mati. Saat itu kota Makkah dalam keadaan subur makmur. Kemudian kami berangkat dengan mengendarai hewan keledai yang sudah tua nan kurus, serta kami bawa pula onta untuk kami perah susunya.

Pada malam harinya kamipun tak bisa tidur akibat tangisan anak kami yang kelaparan dikarenakan air susuku sudah tidak muncukupinya lagi, apalagi air susu onta kami juga tak bisa diharapkan lagi. Kami benar-benar dalam kondisi yang sangat kritis. Hanya tersisa suatu harapan datangnya pertolongan dan jalan keluar dari kesulitan kami ini. Maka, kamipun tetap berangkat ke Makkah dengan keledai tua yang tertatih-tatih dan lambat sekali, sehingga rombongan kami merasa keberatan dan payah atas lambatnya keledai kami. Akhirnya kamipun sampai juga di Makkah dan mencari bayi yang akan kami susui.”

Pada saat itu pula, Sayyid Abdul Muthallib, kakek Nabi Saw., mendengar hatif (seruan malaikat) yang menyerukan agar Rasulullah Saw. jangan disusukan kecuali kepada Sayyidah Halimah as-Sa’diyyah Ra. Sebagaimana disebutkan dalam kitab as-Sirah an-Nabawiyyah juz 1 halaman 56:

إن ابن آمنة الآمين محمد خير الأنام وخيرة الأخيار
ما أن له غير الحليمة مرضع نعم الأمينة هي على الأبرار
مأمونة من كل عيب فاخش ونقية الأثواب والأوزار
لاتسلمنه إلى سواها أنه أمر حكيم جاء من جبار

“Sesungguhnya Muhammad Saw. al-Amin putra Sayyidah Aminah, adalah insan yang paling utama dan sebaik-baik pilihan Allah Swt.
Tiada yang berhak untuk menyusuinya kecuali Halimah as-Sa’diyyah, dialah (Halimah) sebaik-baik wanita pilihan.
Yang terjaga dari segala aib dan kejelekan, serta telah disucikan lahir dan batinnya.
Janganlah sekali-kali engkau serahkan Muhammad Saw. selain kepadanya. Sungguh ini adalah suatu keputusan dan ketetapan dari Allah Swt. Dzat Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.”

Sesampainya Sayyidah Halimah di Makkah, maka dengan izin Allah Swt. ia ditemukan dengan Sayyid Abdul Muthallib. Seketika Sayyid Abdul Muthallib mengetahui bahwa ia (Sayyidah Halimah) adalah sebagian dari rombongan para wanita yang sedang mencari anak untuk dirawat dan disusuinya. Sebagaimana disebutkan dalam kitab as-Sirah an-Nabawiyyah juz 1 halaman 55, Sayyidah Halimah Ra. berkata:

“Kemudian Sayyid Abdul Muthallib menemuiku dan bertanya: “Siapakah sesungguhnya engkau dan dari manakah asalmu?”

Akupun menjawab: “Wahai Tuan Abdul Muthalib, saya adalah seorang wanita biasa dari kabilah Bani Sa’ad.”

Beliau bertanya lagi: “Siapakah namamu?”

Akupun menjawab: “Duhai Tuan Abdul Muthallib, namaku adalah Halimah.”

Beliaupun kemudian tersenyum bahagia dan berkata: “Halimah dan Sa’diyyah adalah dua nama yang sangat indah sekali yang menunjukkan kemuliaan dan kebaikan dunia akhirat. Maukah kamu menyusui dan merawat cucuku? Niscaya engkau mendapati keberuntungan yang abadi.”

Akupun menjawab: “Wahai Tuan, sungguh saya bersedia. Segera pertemukan saya dengannya.”

Maka wajah Tuan Abdul Muthallib semakin berbinar-binar memancarkan kebahagian yang meluap (atas tercapainya apa yang diharapkan). Kemudian beliau mengajakku masuk ke dalam rumah Sayyidah Aminah Ra. Sesampainya di sana, Sayyidah Aminah Ra. menyambutku dan berkata: “Selamat datang dan kami senang bertemu denganmu.”

Kemudian Sayyidah Aminah Ra. mengajakku masuk ke kamar Rasulullah Saw. dengan sangat perlahan-lahan dan sangat hati-hati. Setelah aku melihatnya, aku sangat kagum dengan keindahan wajahnya yang sangat anggun mempesona laksana mutiara yang tiada duanya. Beliau Saw. sedang tidur dengan pulas berselimutkan sutera yang sangat putih dan jernih melebihi putihnya susu dan terhampar di bawahnya sutera hijau yang sangat indah dan semerbak bau yang sangat harum menyebar dari tubuhnya.

Maka akupun mendekatinya dengan sangat perlahan dan hati-hati karena khawatir membangunkan beliau Saw. dari tidurnya. Dengan sangat hati-hati kuusapkan tanganku di dada beliau Saw. Tiba-tiba beliau Saw. terbangun dan membuka kedua matanya. Dan tiba-tiba pula memancar cahaya dari kedua matanya dan beliau Saw. pun memandangku dengan senyumnya yang sangat indah. Akupun terpana dan sangat kagum, belum pernah selama hidupku aku melihat peristiwa yang sangat luar biasa seperti ini.

Akupun tak sabar lagi untuk secepatnya memegang dan memeluknya. Seketika itu pula, dengan reflek aku cium keningnya (antara kedua matanya). Kuangkat, kugendong, kupeluk dan tiba-tiba kedua payudaraku yang tadinya sedikit air susunya, seketika menjadi penuh dan deras air susunya. Maka aku pun memberikan susu kanan kepada beliau Saw., dan beliau Saw. pun meminumnya. Begitu aku pindahkan ke sebelah kiri, beliau Saw. menolaknya, seakan-akan beliau Saw. memberikan isyarat bahwa susuku yang kiri adalah untuk anakku Abdullah.”

Dijelaskan dalam kitab tersebut tentang hal ini bahwa ahli ilmu mengatakan: “Sesungguhnya Allah Swt. memberikan ilham kepada Rasulullah Saw., bahwa beliau Saw. mempunyai saudara yang menyusu bersamanya. Maka beliau Saw. pun memberikan bagian untuknya.”

Sayyidah Halimah Ra. berkata: “Setelah beliau Saw. merasa cukup, kemudian aku susui anakku Abdullah dengan susu kiri sampai kenyang dan tidur pulas. Padahal sebelumnya anakku tidak pernah bisa tidur pulas karena lapar.

Pada saat itu pula, suamiku yang sedang menunggu di luar mendekati onta yang kami bawa. Tiba-tiba onta kami tersebut kelihatan segar, gemuk dan kantong susunya penuh dengan air susu. Kemudian ia memerah susunya untuk kami minum sampai kami merasa segar dan kenyang sekali. Dan kami pun bisa tidur pulas di malam itu, padahal sebelumnya kami tak pernah bisa tidur pulas.

Maka, pada pagi harinya suamiku berkata: “Wahai istriku tercinta Halimah, sungguh kita telah mendapatkan bayi agung yang sangat mulia dan penuh keberkahan.”

Demikian pula, keledai kami yang dulunya kurus dan lemah kini tiba-tiba menjadi, gemuk, kuat, sehat dan cepat jalannya.

Di saat kami sekeluarga dan rombongan akan pulang, aku melihat keledaiku sujud menghadap ke Ka’bah sebanyak tiga kali dan mengangkat kepalanya ke langit. Akupun lantas naik keledai tersebut dan menggendong Rasulullah Saw. Demi Allah, keledaiku sangat cepat jalannya, tak ada satupun yang bisa mengejarnya, sampai rombonganku terheran dan berkata: “Wahai Halimah binti Abi Dzuaib, kasihanilah kami, perlahanlah jangan cepat-cepat jalannya. Bukankah itu keledaimu yang dulunya lemah dan lambat jalannya?”

Akupun menjawab: “Benar teman-temanku. Demi Allah, sungguh inilah keledai itu.”

Kemudian diantara mereka menjawab: “Demi Allah, sungguh itu adalah suatu keajaiban yang sangat luar biasa.”

Dan seketika itu juga terdengar jelas olehku keledaiku berkata dengan bahasa Arab yang fasih: “Demi Allah, sungguh Allah Swt. telah melimpahiku keajaiban yang luar biasa. Allah Swt. telah mengembalikan kekuatan dan semangatku serta menjadikanku gemuk dan segar. Camkan oleh kalian semua hai Kabilah Bani Sa’ad. Apakah kalian tidak sadar, siapakah sesungguhnya yang ada di punggungku ini? Sesungguhnya beliau adalah Baginda Nabi Besar Muhammad Saw. yang menjadi Kekasih Allah Swt., sebagai junjungan seluruh para nabi dan rasul. Dan dialah sebaik-baik seluruh makhluk Allah Swt. di alam semesta ini.”

Dengan adanya beraneka ragam peristiwa ini semua, sudah dipastikan bahwa Sayyidah Halimah Ra. semakin memuncak kekaguman dan kebanggaannya kepada Rasulullah Saw. Dan sesungguhnya ibunda beliau Saw., Sayyidah Aminah Ra., tentu tidak sembarangan menyerahkan buah hatinya begitu saja kepada Sayyidah Halimah Ra. Namun semata-mata melaksanakan kehendak Allah Swt. dengan penuh keyakinan bahwa sesungguhnya Allah Swt. pasti akan senantiasa melindungi dan menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Bagaimana tidak, karena sesungguhnya Sayyidah Aminah Ra. telah menyaksikan sendiri tentang keagungan putranya dengan adanya berbagai macam mukjizat yang sangat luar biasa yang terjadi sejak sebelum dilahirkan, saat dilahirkan dan sesudah dilahirkannya beliau Saw. Dengan itu semua, Sayyidah Aminah Ra. senantiasa merasa tenang, tentram dan ridha atas segala sesuatu yang menjadi kehendak Allah Swt.

Dan sesampainya Sayyidah Halimah Ra. di daerahnya, ia melihat keajaiban-keajaiban yang sangat menakjubkan. Sebagaimana dijelaskan di kitab Sirah Ibnu Hisyam halaman 38, Sayyidah Halimah Ra. berkata: “Setelah kami sampai rumah, tiba-tiba kami melihat kambing-kambing kami telah menjadi gemuk, segar dan penuh air susunya. Padahal sebelumnya dalam keadaan kurus dan daerah kami masih dalam keadaan tandus kekeringan. Maka seketika itu pula langsung kami perah susunya dan kami minum hingga kami semua merasa kenyang.”

Dan sebagaimana telah disebutkan dalam kitab as-Sirah an-Nabawiyyah juz 1 halaman 58, Sayyidah Halimah Ra. berkata: “Dan setelah kami masuk rumah, tiba-tiba kami mencium bau harum semerbak yang sangat luar biasa wanginya di setiap ruangan rumah kami. Maka dengan bangga aku ceritakan kepada para tetanggaku segala keajaiban yang telah aku lihat sendiri tentang kemuliaan dan keberkahan anak yang kubawa ini. Dan merekapun meyakini hal tersebut, sehingga apabila ada diantara mereka yang sakit, maka mereka meletakkan telapak tangan beliau Saw. di tempat yang sakit. Sehingga dengan izin Allah Swt. penyakit tersebut segera sembuh.”

#Imam Besar Jomblowan Sya'roni As Samfuriy mengajak semua hadirin untuk bershalawat salam kepada Baginda Nabi Agung Muhammad Saw. Shalluuuu 'alan Nabiy...

PALING DIMINATI

Back To Top