Bismillahirrohmaanirrohiim

AKHLAK ADALAH BEKAL TERBAIK

Assalamu'alaikum warahmatu 'l-Laahi wabarakaatuh.

Bismi 'l-laahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.

Saya sedang dalam perjalanan ke Makam Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur, sepulang dari sowan kepada Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nadlatul Ulama K.H. A. Mustafa Bisri di Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, pada Rabu malam, 11 Maret, ketika mengirim pesan pendek kepada Rais Aam Syuriah PCI NU Australia - New Zealand, Prof K.H. Nadirsyah Hosen. Kami bercakap mesra.

Kepada Gus Nadir, saya mengabarkan kepada Beliau bahwa Gus Mus memujinya, "Gus Nadir itu cerdas luarbiasa! Wallahi Gus Mus matur begitu." Tidak saya duga, tanggapan Gus Nadir sungguh rendah hati. Beliau menjawab,"Barakah para masyaikh. Cerdas tanpa akhlak tak ada artinya, Mbah. Doakan saya ya, semoga para masyaikh kalau disebut nama saya spontan menyebut akhlak saya." Betapa dalam ilmu Gus Nadir, luas pengetahuannya, dan tinggi pula akhlaknya.

Ya, akhlak memang bersifat tinggi. Meski induk dari akhlak adalah rendah diri kepada Allah dan rendah hati kepada makhlukNya. Justru dengan merendah serendah-rendahnya itulah, Kanjeng Nabi dan Rasul Muhammad SAW diangkat setinggi-tingginya oleh Allah dan diperjalankan sebagai HambaNya dalam Isra' Mi'raj. Ya, Hamba Allah, dan inilah setinggi-tinggi kedudukan makhlukNya. Persoalannya, kita lebih suka bermain menjadi Tuhan daripada menghamba kepadaNya.

Membaca buku Kang Ujang - Negeri Kanguru ini, saya menjadi semakin menyukai martabak terang bulan. Gus Nadir meniupkan ruh buku ini pada percakapan antara Haji Yunus dan Kang Ujang sebelum babak perjalanan ke Australia dimulai. Saya berharap bisa menemukan Haji Yunus yang berjualan martabak terang bulan di depan Kantor Polsek Ciputat, Tangerang, Banten. Saya juga ingin belajar kepada Beliau. Ah, benar ternyata bahwa tidak ada guru yang tidak mengajar. Yang ada adalah murid yang tidak belajar. Dan, Haji Yunus telah membekali muridnya, Kang Ujang, dengan bekal terbaik, yaitu akhlak.

"Belajar Tasawuf tanpa Fiqh, zindik. Belajar Fiqh tanpa Tasawuf, fasik. Belajar Tasawuf dan Fiqh, benar." Kita wajib berterimakasih telah diingatkan oleh Haji Yunus via tulisan Gus Nadir. Ya, memang benar bahwa Syari'at tanpa Haqiqat, sesat. Dan, Haqiqat tanpa Syari'at, sia-sia. Ilmu tanpa adab, padam. Adab tanpa ilmu, gelap. Dan, Cinta kepada Allah dan RasulNya tanpa mencintai sesama makhlukNya, menurut petuah Gus Mus, adalah dusta belaka. Semoga Allah melindungi kita.

Sahabat saya, Habib Abu Bakr bin Salim bin Alwi bin Smith, mengingatkan bahwa makna dari Laa hawla walaa quwwata illa bi 'l-Laahi 'l-'aliyyi 'l-'adziim itu ada tiga lapis. Pertama, laa hawla; tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari keburukan. Kedua, walaa quwwata; tidak ada upaya untuk melaksanakan kebaikan. Ketiga, illa bi 'l-Laahi 'l-'aliyyi 'l-'adziim; kecuali dengan izin Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung -- untuk makhlukNya yang rendah dan hina.

Menutup pengantar ringkas ini, saya berbahagia menyambut kelahiran buku terbaru Gus Nadirsyah Hosen ini. Saya semakin yakin bahwa Cinta adalah segala yang dibutuhkan oleh Rindu. Jika Allah menganugerahkan Rahmat dan Muhammad memberikan Sya'faat, pertanyaaannya kembali kepada kita: apa yang kita persiapkan untuk menghadap kepada Allah dan menjalankan Sunnah Rasul? Buku ini memberi jawaban: AKHLAK.

Selamat membaca.

Wassalamu'alaikum warahmatu 'l-Laahi wabarakaatuh.

Solo, 13 Maret 2015

Candra Malik


Note: Di atas ini coretan tanda cinta dari Candra Malik untuk menyambut terbitnya buku "Dari Hukum Makanan Tanpa Label Halal Hingga Memilih Mazhab yang Cocok' (Mizania, Juni 2015). Buku ini dikemas dalam jalinan kisah Ujang di negeri Kangguru yang mencari jawaban legalitas dan spiritual. Terima kasih untuk Mbah Candra Malik atas coretan dan doa restunya (Prof. Nadirsyah Hosen)

PALING DIMINATI

Back To Top