Bismillahirrohmaanirrohiim

Al-Aql wa Fahm al-Quran karya Imam al-Muhasibi. Edisi 1

Selamat pagi semua. Untuk menyambut datangnya Ramadhan (bulan turunnya Al-Quran), Insya Allah mulai besok hingga akhir Ramadhan saya akan "ngaji online" via status FB dengan mengkaji kitab Al-'Aql wa Fahm al-Quran (Akal dan Pemahaman Al-Quran) karya Imam al-Harits al-Muhasibi, ulama abad ke-3 H yang sangat berpengaruh dalam sejarah kebudayaan Islam. Manuskrip kitab tersebut disimpan di Turki dan diterbitkan kembali oleh Dar al-Fikr pada tahun 1981.
Tema-tema yang dikaji:
1) Biografi al-Muhasibi mencakup konteks sosio-kultural kehidupannya
2) Pengaruhnya trhdp Imam Asy'ari, al-Ghazali, dan Pemikiran Islam
3) Rasionalisme dan Sufisme al-Muhasibi
4) Mutiara Qur'ani dlm Pandangan al-Muhasibi

5) Peran Akal dlm Memahami Al-Quran

Mari kita mulai “ngaji online posonan” ini dgn membaca ummul kitab semoga barokah dan manfaat. Ila hadharati nabiyyil mustafa Muhammad saw wa shahabat wa tabiin wa ulama al-‘amilin, lahumul alfatehah. Bismillahirrahmanirrahim.....al-ayah.
Setelah Dinasti Umawiyah runtuh pada tahun 132 H, Dinasti Abasiyah berdiri. Akhir era Dinasti Umawiyah diwarnai oleh benturan-benturan politik seperti revolusi demonstran dari Khurasan, gerakan Syiah Persia melawan hegemoni Umawiyah, dan benturan teologis-politis antara generasi awal Jabariyyah, Qadariyah, Khawarij, Syiah, Murji’ah, dan Ahli Sunnah wal Jamaah
Pada periode awal Dinasti Abasiyah, tepatnya pada tahun 165 H, Imam al-Muhasibi terlahir di kota Bashrah. Imam al-Muhasibi lahir dalam lingkungan keluarga yang tersekat oleh perbedaan paham keagamaan. Ayahnya, Asad al-‘Anzi, adalah penganut paham Qadariyyah, sedangkan ibunya cenderung kepada Ahli Sunnah wa al-Jamaah. Dalam riwayat al-Khatib al-Baghdadi, Imam al-Muhasibi pernah bercerita bahwa perbedaan paham teologis—tanpa adanya toleransi—itulah yang menyebabkan kedua orang tuanya bercerai
Pada masa mudanya di Bashrah, al-Muhasibi merasakan hangatnya atmosfer perdebatan teologis dimana masing-masing sekte Islam tak jarang saling mengkafirkan. Pemuka agama Nashrani, Majusi, Yahudi, dan Islam juga menyemarakkan dinamika dialog inter-religius yang sangat serius. Dinamika pemikiran bertambah semarak dengan diterjemahkannya filsafat Yunani oleh pemerintah Dinasti Abasiyah ke dalam bahasa Arab yang kemudian diikuti oleh tersebarnya pengaruh filsafat Platonisme dan paripatetik Aristotelian. Proyek penerjemahan filsafat Yunani dilakukan pada masa al-Muhasibi, tepatnya sejak masa pemerintahan al-Manshur (136-158 H) hingga masa pemerintahan al-Ma’mun (198-218 H)
Kekayaan khazanah keilmuan tersebut ditambah dengan keragaman pendapat ahli fikih seperti Imam Abu Hanifah (150 H), Imam Malik (178 H), dan Imam Syafi’i (w. 204 H). Dikisahkan, al-Muhasibi muda rela menempuh perjalanan ilmiah ke Baghdad untuk berguru pada Imam al-Syafi’i dan ulama-ulama penganut madzhab lainnya. Di sisi lain, al-Muhasibi muda juga menjalin kontak intelektual dengan para ahli hadits dan para sufi. Ia menerima hadits dari rawi-rawi hadits ternama dan menyerap ajaran-ajaran cinta sufistik warisan Hasan al-Basri (w.110 H) dan Rabiah Adawiyah (w.185). Al-Muhasibi memiliki rasa ingin tahu yang besar (intellectual curiosity) untuk menyelami kedalaman lautan keilmuan yang multidisipliner. Hal itulah yang kelak mengantarkannya menjadi ulama yang berwawasan luas dan bijaksana. Wallahu a’lam bi al-shawab.

= Gus Irwan Masduqi =

PALING DIMINATI

Back To Top