Bismillahirrohmaanirrohiim

Al-Aql wa Fahm al-Quran karya Imam al-Muhasibi. Edisi 2

Imam al-Muhasibi hidup di tengah-tengah dinamika pemikiran di mana para ahli fikih, para sufi, para filosof, dan para teolog saling berdebat. Para ahli fikih yang cenderung tekstual menuduh para sufi telah mengabaikan makna harfiyah teks al-Quran dan hadits. Sebaliknya, para sufi mengkritik fuqaha karena dinilai mengabaikan esensi ajaran agama yang bersembunyi di balik teks al-Quran dan hadits. Para sufi menyindir ahli fikih tekstualis dengan julukan “ulama al-qasyr” (ulama kulit agama) dan “hasyawiyyah” (tekstualis).
Di sisi lain, para sufi mengkritik para filosof dan para teolog yang terlalu percaya pada rasionalitas. Bagi para sufi, satu-satunya sumber pengetahuan yang tidak mengecewakan adalah perasaan yang timbul dari suara hati (dzauq). Di sinilah al-Muhasibi menyaksikan benturan-benturan epistemologi burhani, irfani, dan bayani. Benturan antara teks, akal, dan hati.
Imam al-Muhasibi ingin menjembatani secara moderat benturan-benturan itu. Ia berkepentingan menyandingkan antara teks agama, akal, dan hati. Beliau merasa terpanggil mendekatkan kesenjangan antara ulama kulit dan ulama esensi. Berkat perannya ini, Ibnu Khaldun menyatakan bahwa al-Muhasibi telah mengumpulkan ilmu dhahir dan ilmu batin.
Imam al-Muhasibi sangat menghargai rasionalitas, namun juga tidak mengabaikan ketajaman penglihatan hati. Meskipun beliau seorang rasionalis, namun selalu mengasah hatinya agar tajam dalam mengintrospeksi kekurangan diri dan kotoran hati. Dengan hati yang tercerahkan, maka seluruh organ tubuh manusia dapat bertindak benar sesuai aturan Allah Swt. Berkat kegigihannya mengintrospeksi diri, akhirnya beliau diberi julukan “al-Muhasibi” yang artinya adalah orang yang mengintrospeksi diri.
Wallahu a’lam bi al-shawab

PALING DIMINATI

Back To Top