Bismillahirrohmaanirrohiim

Al-Aql wa Fahm al-Quran karya Imam al-Muhasibi : Edisi 6


Akal dalam pandangan Imam al-Haris al-Muhasibi, koleganya dan ulama se-generasinya

Ahmad bin ‘Ashim al-Anthaki: Akal yang paling bermanfaat adalah yang memperkenalkanmu pada nikmat-nikmat Allah swt., menolongmu untuk bersyukur, dan menuntunmu menyingkir dari keburukan.

Abu Hafs al-Naysaburi: Orang yang berakal adalah yang menuntut dirinya sendiri untuk ikhlas.

Ibnu Masruq: Orang yang tidak menjaga akalnya dari bahaya akalnya untuk kebaikan akalnya maka akan rusak sebab akalnya.

Fudhayl bin ‘Iyyad: Orang yang paling berhak mendapat ridha Allah swt adalah yang akalnya menuntunnya mengenali Allah swt.

Al-Muhasibi: Setiap pelaku asketis (zahid) memiliki derajat asketisme yang berbeda-beda sesuai dengan kadar pengetahuannya. Pengetahuannya sesuai kadar akalnya. Akalnya sesuai kadar kekuatan imannya. Allah swt tidak dikenal kecuali dengan akal dan ketaatan harus berdasarkan ilmu. Dengan akal, manusia bisa mentaati perintah dan menjauhi larangan. Dengan akal manusia menuju kepada pencerahan dan terangkat derajatnya. Dengan ilmu, maka akal akan sampai ke jalan Allah swt.

Al-Muhasibi juga berkata: Asal-usul rasa takut dan harapan kepada Allah adalah pengetahuan tentang janji dan ancaman-Nya. Janji dan ancaman-Nya akan membangkitkan akal, lalu akal akan tenggelam dalam lautan cinta mati pada-Nya. Ketika akal (=hati) merasakan manisnya cumbu rayu bersama sang Kekasih (=Allah), maka akal akan tenggelam oleh manisnya munajat cinta. Saat manusia bisa merasakan manisnya munajat cinta kepada Allah maka akalnya akan lupa pada manisnya dunia dan seisinya. ‪#‎NgajiRamadhan‬
Wallau a'lam bi al-shawab

= Gus Irwan Masduqi =
PP. Assalafiyyah Mlangi Jogja

PALING DIMINATI

Back To Top