Bismillahirrohmaanirrohiim

Kiamat

Seorang penyair pernah mengalami penyakit aneh. Ia tiba-tiba kehilangan rasa keindahan. Padahal bagi penyair keindahan itu sepertinya adalah hakikat yang menghubungkan tubuhnya dengan karya-karyanya. Tanpa memiliki rasa keindahan ia bagai kehilangan jiwanya. Adalah kiamat bila penyair tak bisa lagi meresapi keindahan mentari atau mekarnya bunga. Ia bisa berhenti berkarya, dan perlahan lenyap.
Bagi seorang penulis, ada masanya ketika ia mengalami mati ide dan kata-kata tak lagi punya daya untuk mendorong sebuah gerak. Writer's block. Buntu. Percuma ia menatap layar komputer berjam-jam, karena apapun yang ia tulis tak lagi berguna --itupun kalau ia mampu menulis lebih dari tiga kalimat. Kiamat bagi penulis ketika ia tak tahu lagi apa yang harus ditulis.
Bagi seorang peneliti, ada saatnya ketika kemampuan analisa menjauh darinya. Apa yang diteliti tidak berjalan semestinya, data yang didapat pun berantakan dan tiba-tiba pencernaannya pun bermasalah akibat menahan ketidakmengertian sebuah kehampaan. Daya inovasi dan kreatifitasnya lenyap entah kemana. Kiamat bagi peneliti ketika karya yang dihasilkan hanyalah daur ulang dari penelitian sebelumnya. Tak ada lagi sesuatu yang baru yang bisa ia tawarkan.
Dan bagaimana pula kisah seorang pecinta? Tahukah kalian bilamana kiamat menghampiri pecinta sejati? Ia bukan lagi sekedar kehilangan rasa keindahan, bukan lagi tak tahu harus menulis apa, dan bukan sekedar kehilangan kemampuan analisanya. Kiamat bagi pecinta itu ketika ia tak lagi bisa mengeja m.a.k.n.a amanah kehidupan saat bersujud padaNya, ketika ia berjalan bukan lagi di atas kehendakNya, dan tak ada lagi sapaan mesra dariNya. Gelap.
Mari para pecinta ilahi, kita singkap tabir kegelapan diri dengan bersiap menyambut bulan suci Ramadan....Semoga Sang Maha Cinta berkenan melimpahkan cintaNya kepada kita di bulan suci.
Allahumma ballighna Ramadan!

= Gus Nadir =

PALING DIMINATI

Back To Top