Bismillahirrohmaanirrohiim

KAJIAN TENTANG BENDERA MERAH-PUTIH, BENDERA HTI / ISIS DAN BENDERA RASULLULLAH AL-LIWA' DAN AR-RAYAH

Ketahuilah bahwa sang saka merah putih merupakan bendera Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Para ulama dalam sejarahnya berjuang buat mengenalkan si saka merah putih bagaikan bendera Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada bangsa indonesia dengan mengajarkannya berulang semenjak abad ketujuh masehi ataupun abad pertama hijriah. masa ini berbarengan dengan masuknya agama islam ke nusantara.

Para ulama membudayakan bendera merah putih dengan bermacam fasilitas antara lain 3 trik berikut:

*Pertama*, mengawali pembicaraan ataupun pengantar buku/novel, sering diucapkan ataupun dituliskan sebutan "sekapur sirih" dan juga "seulas pinang". Bukankah kapur dengan sirih jika tercampur akan melahirkan corak merah? Kemudian, apabila buah pinang diiris ataupun dibelah, akab tampak di dalamnya berwara putih?

*Kedua*, budaya menyongsong kelahiran dan juga pemberian nama balita dan tahun baru islam tetap dirayakan dengan menyajikan bubur merah putih?

*Ketiga*, pada saat membangun rumah, di lapisan atas dikibarkan si merah putih. tiap hari jum'at, mimbar jum'at di masjid agung ataupun masjid raya dihiasi dengan bendera merah putih.

Pendekatan budaya yang dicoba para ulama telah menjadikan pemerintah kolonial belanda tidak mampu melarang pengibaran bendera merah putih oleh rakyat indonesia. Bukankah bendera perbendaharaan (simpanan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bercorak merah putih?

Hadits shohih yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan Jilid X, halaman 340 dari Hamisy Qastalani. Disitu tercatat, Imam Muslim berkata : “Zuhair bin Harb menceritakan kepadaku, demikian juga Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna din Ibnu Bagyar. Ishaq menceritakan pada kami. Orang-orang lain berkata : Mu’aelz bin Hisyam menceritakan pada kami, bapak saya menceritakan kepadaku, dad Oatadah dari Abu Qalabah, dari Abu Asma’ Ar-Rahabiy, Dari Tsauban radhiallahu anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

" إن الله زوى لي الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوى لي منها وأعطيت الكنزين الأحمر والأبيض وإني سألت ربي لأمتي أن لا يهلكها بسنة عامة وأن لا يسلط عليهم عدوا من سوى أنفسهم فيستبيح بيضتهم وإن ربي قال يا محمد إني إذا قضيت قضاء فإنه لا يرد وإني أعطيتك لأمتك أن لا أهلكهم بسنة عامة وأن لا أسلط عليهم عدواً من سوى أنفسهم يستبيح بيضتهم ولو اجتمع عليهم من بأقطارها أو قال من بين أقطارها حتى يكون بعضهم يهلك بعضاً ويسبي بعضهم بعضاً "

أخرجه مسلم رقم ( 2889 ) 4 / 2215 ، وأبو داود رقم ( 4252 ) 4/97 ، والترمذي رقم ( 2176 ) 4 / 472 ، وأحمد رقم ( 22448 ) 5/278 ، ورقم ( 22505 ) 5/ 284، وابن حبان رقم ( 6714 ) 15 / 109 ، وابن حبان رقم (7238 ) 16/220 ، وابن أبي شيبة رقم ( 31694 ) 6/311 ، والحاكم في المستدرك رقم ( 8390 ) 4/496، والبيهقي في السنن الكبرى رقم ( 18398 ) 9/181، والطبراني في مسند الشهاب رقم ( 1113 ) 2 / 166 ، وأخرجه أحمد أيضاً من حديث شداد بن أوس رقم ( 17156 ) 4 / 123.

"Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku hingga saya dapat lihat timur serta baratnya. Serta sebenarnya kekuasaan ummatku bakal meraih apa yang sudah dinampakkan untukku. Saya di beri dua harta simpanan : #MERAH serta #PUTIH. Serta sebenarnya saya memohon Rabbku untuk ummatku supaya Dia (Allah) tak membinasakan mereka dengan kekeringan menyeluruh, supaya Dia (Allah) tak berikan kuasa musuh untuk kuasai mereka terkecuali diri mereka sendiri hingga menyerang perkumpulan mereka. Serta sesungguhnya Rabbku berfirman, “Hai Muhammad, sebenarnya Aku apabila memastikan takdir tak dapat dirubah, sesungguhnya Aku memberi untuk umatmu supaya mereka tak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh serta Aku akan tidak berikan kuasa musuh untuk menyerang mereka terkecuali diri mereka sendiri lantas mereka menyerang perkumpulan mereka, walaupun musuh mengepung mereka dari semua penjurunya, sampai pada akhirnya beberapa dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian yang lain serta saling menawan keduanya. ” (HR. Muslim no.2889, Abu Daud no.4252, Tirmidzi no.2176, Ahmad no.22448 /22305 /17156, Ibnu Hibban no.6712/7238, Ibnu Syaibah no.31694, Al-Hakim no.8390, Al-Baihaqi no.18398, At-Thabrani no.1113).

Dalam kandungan hadits diatas dijelaskan pula tentang doa permohonan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk umatnya agar dijauhkan dari kekeringan (kelaparan), agar tidak dikalahkan dan dikuasai musuhnya namun justru umat islam lah yang saling menyerang dan doa ini dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Sementara dalam hadits tersebut Allah menjelaskan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa umat islam sendiri yang saling bermusuhan, menyerang dan membunuh. Hal ini terlihat nyata dengan munculnya ISIS yang mengklaim pembawa panji-panji  kebenaran dan bendera Ar-Rayyah (bendera warna hitam dengan tulisan warna putih) kemudian mereka membantai umat islam saudaranya sendiri.

Akhir-akhir ini banyak yang bingung, penasaran, dan ingin tahu tentang bendera umat Islam yang disebut Liwa dan Rayah. Bendera-bendera tersebut mencuat ke permukaan dengan ramai setelah saudara muslim kita dari kalangan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) mengklaim bahwa mereka menjunjung dan mengibarkan Panji Rasulullah. Lantas, pertanyaan yang muncul adalah benarkah itu bendera umat Islam dari Rasulullah?

Al-liwâ’ dan al-râyah merupakan nama untuk bendera dan panji Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Secara bahasa, keduanya berkonotasi al-’alam (bendera). Namun secara syar’i, al-liwâ’ (jamak: al-alwiyah) dinamakan pula al-râyah al-’azhîmah (panji agung), dikenal sebagai bendera negara atau simbol kedudukan pemimpin, yang tidak dipegang kecuali oleh pemimpin tertinggi peperangan atau komandan brigade pasukan (Amîr al-Jaisy) yakni pemimpin itu sendiri, atau orang yang menerima mandat dari pemimpin, sebagai simbol kedudukan komandan pasukan. Ia memiliki karakteristik berwarna putih, dengan khath berwarna hitam “lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh”, berjumlah satu.

Sedangkan al-râyah (jamak: al-râyât), ia adalah panji (al-’alam) berwarna hitam, dengan khath berwarna putih “lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh”, dinamakan pula al-’uqâb. al-râyah berukuran lebih kecil daripada al-liwâ’, dan digunakan sebagai panji jihad para pemimpin detasemen pasukan (satuan-satuan pasukan (katâ’ib)), tersebar sesuai dengan jumlah pemimpin detasemen dalam pasukan, sehingga berjumlah lebih dari satu.

*Riwayat Hadits tentang bendera Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diantaranya sbb:*

Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Rayah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”

Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Jabir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

“Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.”

Ibn Abiy Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata:

كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ

“Liwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berwarna putih.”

Saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi panglima militer di Khaibar, beliau bersabda:

لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْلَيَأْخُذَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ الله َوَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّايَةَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ

“‘Sungguh besok aku akan menyerahkan ar-râyah atau nanti ar-râyah itu akan diterima oleh seorang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya atau seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mengalahkan (musuh) dengan dia.’. Tiba-tiba kami melihat Ali, sementara kami semua mengharapkan dia. Mereka berkata, ‘Ini Ali.’. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan ar-rayah itu kepada Ali. Kemudian Allah mengalahkan (musuh) dengan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.”.

Dari penjelasan hadits-hadits tentang bendera Al-Liwa' dan Ar-Rayah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diatas diperuntukkan sebagai panji kepemimpinan (tanda kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ra) dan tanda panji jihad melawan musuh islam, dan bukan dijadikan panji pembunuhan dan pembantaian umat islam seperti yang dilakukan ISIS dan bukan pula sebagai panji demonstrasi seperti saat ini. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menyampaikan semoga bermanfa'at. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼

PALING DIMINATI

Back To Top