Bismillahirrohmaanirrohiim

Bagaimana Media Seharusnya Memotret Wajah Islam dan Pesantren ?

Bagaimana Media Seharusnya Memotret Wajah Islam dan Pesantren?

Rizqi Ifn, 7 Mei 2016

Islam saat ini semakin menjadi tren pembicaraan di dunia, baik dari sisi negatif bagi para pencaci, maupun perspektif yang melihat dengan sewajar dan sesuai  kesejarahannya.

Kaum muslimin di dunia, mayoritas, katakanlah 90 pesen, menganut faham ahlissunnah wal Jama’ah. Faham ini dalam masyarakat Indonesia, terutama dianut oleh Nahdlatul Ulama, juga Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Al-Washliyah, Matlaul Anwar, dan Nahlatul Wathon. Dengan karakter pemikiran yang toleran, dan moderat, faham ini bertahan dan berkembang  secara signifikan.

Salah satu indikatornya adalah semakin banyak muslimin Indonesia yang mempercayakan pendidikan keislamannya kepada pesantren.

Di Jombang, sebagaimana disebut situs Duta Pesantren, terdapat sekitar 163 pesantren. Namun, ketika saat ini tantangan tata dunia yang masuk dalam era globalisasi, media pesantren maupun muslim aswaja yang bertugas membendung masuknya media muslim yang ekstrem kanan atau kiri masih harus terus dipertambah, dan musti didesain.

Salah satu contoh majalah NU yang istiqamah terbit hingga saat ini adalah Aula yang dikelola PWNU Jatim. Selain itu ada majalah Ar-Risalah yang diterbitkan PBNU, dan banyak majalah yang diterbitkan masing-masing PWNU, maupun PCNU. Di Jombang, ada majalah Nahdlah, semula terbit empat bulanan, kemudian dwibulanan, lalu setiap bulan.

Jika kita melihat majalah yang diterbitkan pesantren dengan lingkup nasional  masih harus terus diperbanyak, dan konsis, maka kita patut berbahagia,  karena media online yang dibuat pesantren, nahdliyyin bahkan PBNU saat ini lumayan berkembang pesat. Lihatlah NU Online, situs resmi PBNU yang mendapatkan penghargaan Komputeraktif Award 2004 sebagai situs terbaik kategori Sosial dan Kemasyarakatan.

Pada 28 Agustus 2007 bertepatan Harlah ke-4, NU Online memberikan penghargaan kepada pengelola website terbaik di lingkungan NU yaitu PB PMII, GP Ansor, Lakpesdam NU Jombang, dan PP Muslimat. Sejak 2008, PCNU Jombang juga telah memiliki website resmi, dan alhmadulillah bertahan dan berkembang hingga saat ini.

Namun, apakah kita sudah harus mencukup puas terhadap perkembangan media di pesantren maupun muslim aswaja? Tentu tidak. Masih banyak kekosongan-kekosongan yang musti lekas diisi daan diikhtiari oleh para kader Aswaja. Dan, pelatihan jurnalistik pesantren yang bertempat di Graha Gus Dur ini adalah salah satu ikhtiar penting untuk menggerakkan bersama roda dinamika pesantren dan Islam.

Pelembagaan atau pewarisan  ajaran Islam Aswaja dan NU (pesantren) dalam kaitan dengan media dapat disimpulkan secara sederhana sebagai berikut : Pertama, generasi terdahulu memahami Aswaja dan NU dari orang tua, kiai dan lembaga pendidikan (madrasah dan pesantren). Kedua, generasi kini, memahami Aswaja dan NU dari orang tua, kiai dan lembaga pendidikan (madrasah dan pesantren), dan informasi media. Ketiga, generasi yang akan datang

memahami aswaja boleh jadi dominannya akan dipengaruhi oleh media apa yang ia baca, ia dengar, ia lihat dan ia akses. Demikian penulis kutip dari Anis Ilahi.

Di era masyarakat modern yang ditandai dengan perkembangan informasi dan komunikasi  terdapat kecenderungan manusia  sangat bergantung kepada media. Di era modern kehidupan manusia dikepung oleh informasi dan isi media 24 jam sehari tanpa batas. Hal itu karena jenis media makin beragam dan makin mudah, makin indah, makin murah dikonsumsi.

Media-media yang berpengaruh dalam kehidupan umat manusia saat ini adalah : media cetak (koran, buku, majalah), media elektronik (TV, Radio, Cinema), media internet, media pertunjukan dan media event (pameran, bazar,  wayang, ketoprak, dll), media luar ruang (spanduk, baliho, poster, dll).

Dengan demikian, apa tugas utama para kader muda dalam konteks media? Ialah menguatkan keyakinan orang banyak, bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan damai, toleran, dan moderat, sebagaimana ditampilkan wali songo dan para ulama. Islam yang baik adalah Islam yang menghargai warisan pemikiran para ulama semenjak generasi salaf hingga kini.

Ia juga menghormati tradisi, ketika  tradisi itu positif, dan tidak bertentangan dengan ruh agama. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan keislaman khas nusantara demikian juga. Ia adalah tempat mendidik ilmu-ilmu keislaman secara berjenjang. Karakternya sejuk, memelihara pemikiran para ulama terutama dalam lingkup madzhab empat, dan terutama Imam Syafi’i.

Sedangkan dalam akidah mengikuti faham yang disistemitasi oleh Imam Abu Hasan Al Asy’ari, Imam Abu Manshur Al Maturidi, dan dalam tasawuf mengikuti antara lain Imam Ghazali dan Imam Junaid Al Baghdady. Dikatakan, Islam yang demikian ini adalah Islam yang bermadzhab. Mengambil ilmu dengan olahan para ulama yang terpercaya.

Pesantren dengan kitab kuningnya berusaha menyapa masyarakat dengan  kerendahhatian, dan penuh hati-hati. Pesantren misalnya, punya kaidah yang kokoh dalam memahami agama. Karena itu ia tidak mudah mengkafirkan sesama muslim atau faham lain.

Kader-kader pesantren musti mewarnai media. Dalam istilah Ahmad Baso, pesantren dan islam mainstream harus menjadi fail atau pelaku. Inilah kesempatan untuk mengenalkan kepada dunia tentang pesantren dan Islam lewat penulisan berita dan artikel kepesantrenan dan keaswajaan. Selepas dari pelatihan ini, para sahabat diharap terus berkomunikasi dengan Duta Pesantren.

Diharapkan berita maupun tulisan dapat dikirim lewat situs yang memperkenalkan pesantren-pesantren di Jombang ini, dan dikirim pula ke email situs resmi PBNU, NU Online di redaksi@nu.or.id

Kader-kader musti tahu posisi Aswaja sebagai fondasi berpikir, dan dengannya bagaimana  menggerakkan bersama. Kenapa demikian? Karena ideologi dakwah  menjadikan isi media sebagai  dakwah untuk  menyebarkan ajaran atau ideologi terentu.

Media  dakwah  terkait dengan garis perjuangan lembaga pengelolannya, secara garis besar : Pertama, media dakwah yang dikelola oleh lembaga-lembaga keagamaan yang bersifat moderat, maka sifat informasinya akan  lebih damai, lebih  mengajak,  mencerahkan, memberdayakan dan menerangkan duduk soal dengan arif dan bijak.

Kedua, media dakwah yang dikelola oleh lembaga-lembaga keagamaan yang bersifat radikal, maka sifat informasinya akan sangat provokatif, agitatif, menyalahkan pihak yang tidak sealirah, dan memonopoli keberan hanya milik kelompoknya.

Untuk mengoptimalkan  penggunaan media sebagai   alat mempertahankan ideologi aswaja, maka diperlukan pemahaman terhadap dua hal : pertama,   memberikan keterampilan muslim Aswaja dan santri sebagai konsumen media agar memiliki  pengetahuan, kesadaran dan keterampilan membaca media cetak, menonton televisi, mendengarkan radio, maupun mengkases informasi melalui internet  dan berbagai jenis media lainnya. Kedua, memberikan ketrampilan kepada muslim aswaja dan santri agar mampu membuat, memanfaatkan media sebagai sarana dakwah yang efektif dan kompetetif, sehingga media pesantren betul-betul  menjadi rujukan bagi umat Islam untuk memproleh informasi keislaman yang benar.

Wallahu A’lam.

Oleh Yusuf Suharto  (Pemerhati media, dan Ketua Aswaja NU Center Jombang)

PALING DIMINATI

Back To Top