Bismillahirrohmaanirrohiim

ABU NAWAS PURA PURA CERAIKAN ISTRINYA DEMI SELEMATKAN HARTA SITAAN


Oleh: Miftah el-Banjary

Al-Kisah suatu hari Abu Nawas mondar mandir kebingungan disebabkan dia hanya punya waktu tiga hari lagi hanya untuk melunasi semua hutang-hutangnya.

Jika tidak mampu melunasinya, dipastikan Abu Nawas akan dipenjarakan dan aset hartanya akan disita oleh kerajaaan Khalifah Harun al-Rasyid.

Abu Nawas harus mencari akal agar aset hartanya yang tersisa tidak disita oleh pengadilan kerajaan. Selama tiga hari tiga malam, Abu Nawas tidak karuan tidur dan makan, dia berpikir sepanjang hari dan sepanjang malam.

Menjelang hari yang ketiga, Abu Nawas berteriak lantang, "Aha! Aku punya akal!!" pekik Abu Nawas kegirangan. Abu Nawas segera menemui istrinya, dan menceritakan ide briliannya.

"Apaaa?!! Apa kamu sudah gila?!!" pekik istri Abu Nawas terperanjat kaget. Abu Nawas membiarkan keterperanjatan istrinya hanya dengan senyum.

Kemudian Abu Nawas membisikkan sesuatu ke telinga istrinya diiringi seringai senyum sang istri penuh pemahaman. "Baiklah, kalau begitu maumu, aku menurut saja," ujar istrinya mengangguk-angguk.

Keesokan harinnya, Abu Nawas dipanggil dan dihadapkan di depan persidangan. Khalifah Harun al-Rasyid sendiri yang menjadi hakimnya.

"Hai Abu Nawas, sudah banyak laporan yang mengadukan bahwa kau sudah terlalu banyak hutang, dan tidak ada jalan, kecuali hartamu yang tersisa itu saja yang akan diambil kerajaan untuk disita dan dilelang.

Sekarang sebutkan aset harta kekayaan apa lagi yang masih tersisa? Rumah? Tanah? Kebun? Ternak? Toko?" tanya sang Khalifah.

"Maafkan hamba duhai baginda Raja yang bijak. Hamba tidak memiliki semua yang baginda sebutkan itu. Hamba sekarang telah pailit dan jatuh miskin." Ujar Abu Nawas memelas penuh rasa iba.

"Kau jangan berbohong wahai Abu Nawas. Pihak penuntut umum kerajaan telah mendata semua asetmu yang masih tersisa dan itu akan kami sita sebagai jaminan!" tegas Khalifah.

"Benar baginda! Hamba tidak berbohong. Aset kekayaan itu sudah tidak bukan milik hamba lagi! Hamba sudah tidak punya apa-apa lagi buat disita!"

"Apa maksudmu, wahai Abu Nawas. Kau jangan mempermainkan persidangan mulia ini! Berkata jujurlah, sebab jika tidak kau akan dikenakan sanksi yang lebih berat lagi."

"Benar baginda, hamba tidak berdusta. Tadi malam setelah mengetaghui hamba tidak mampu lagi melunasi hutang-hutang hamba yang dibebankan pengadilan, lalu istri hamba meminta hamba untuk menceraikannya.

Dan dia meminta agar semua aset harta kekayaan diserahkan atas nama istri hamba. Hamba pun telah menyerahkan semua tanpa tersisa. Dan sekarang hamba tak memiliki apa-apa lagi untuk disita."

Sang Khalifah tercenung. Dia memikirkan bahwa apa yang dilakukan oleh Abu Nawas benar adanya. Bahkan menurut peraturan undang-undang di kerajaan:

"Apabila seseorang sudah jatuh bangkrut dan dinyatakan pailit, maka segala tuntutan hutang-hutangnya dibebaskan oleh kerajaan."

Istri Abu Nawas serta saksi-saksinya pun dihadirkan untuk bersaksi sebagaimana kesaksian Abu Nawas. Dan benar adanya, Abu Nawas telah menceraikan istrinya dan ia pun telah menyerahkan aset kekayaannya pada istrinya.

Walhasil, akhirnya keputusan sidang memutuskan bahwa Abu Nawas dilepaskan dari segala tuntutan hutang.

Setelah diketok palu, Abu Nawas segera berdiri menggandeng bahu istrinya. Orang-orang pun terheran-heran dan bertanya, mau kemana dia membawa istrinya.

Abu Nawas dengan santai menjawabnya, "Aku ingin mengajaknya rujuk kembali!"

Sang Khalifah dan semua hadirin yang hadir hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kecerdasan si Abu Nawas melepaskan diri dari hutang serta ancaman sitaan harta dari pengadilan kerajaan.

***

Kisah diatas boleh jadi hanya sekedar anekdot humor, tapi meski demikian, jika analisa lebih jauh tidak sedikit para artis dan koruptor yang menggunakan trik licik ini untuk terlepas dari jeratan hutang dan sitaaan bank.

PALING DIMINATI

Back To Top